Tampilkan postingan dengan label ILMU-PENGETAHUAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU-PENGETAHUAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2011

PERANAN YANG DIMAINKAN KERJA DALAM PERALIHAN DARI KERA PADA MANUSIA

Kerja adalah sumber segala kekayaan, demikian dinyatakan oleh para ahli ekonomi-politik. Inilah--di samping alam, yang membekalinya dengan material, yang diubahnya menjadi kekayaan. Tetapi ia secara tidak-terhingga juga lebih daripada ini. Ia adalah kondisi dasar utama bagi semua keberadaan manusia, dan ini hingga batas sedemikian rupa sehingga, dalam arti tertentu mengharuskan kita berkata: kerja itu sendiri yang menciptakan manusia.

Beratus-ribu tahun yang lalu, selama suatu kurun zaman yang belum dapat secara pasti ditentukan,dari masa sejarah bumi yang oleh para ahli geologi disebut periode Tertiari, mungkin sekali menjelang akhir periode itu, suatu bangsa kera antropoid yang secara istimewa sangat-berkembang, hidup di sesuatu tempat di wilayah tropikal--boleh jadi di suatu daratan besar yang kini telah tenggelam ke dasar samudera India. Darwin telah memberikan suatu gambaran perkiraan mengenai leluhur kita ini. Mereka sepenuhnya berbulu, mereka berjenggot dan bertelinga runcing, dan mereka hidup dalam gerombolan-gerombolan di pepohonan.

Mungkin sebagai akibat langsung cara hidup mereka, yang dalam memanjat (-pohon) memberikan fungsi-fungsi berbeda pada tangan dan pada kaki, kera-kera ini ketika bergerak di atas tanah rata mulai melepaskan kebiasaan penggunaan tangan-tangan mereka dan mengambil suatu sikap yang semakin lama semakin tegak. Inilah langkah menentukan di dalam peralihan dari kera pada manusia.

Semua kera antropoid dewasa ini dapat berdiri tegak dan bergerak di atas kedua kaki mereka saja, namun hanya dalam suatu keadaan darurat dan secara sangat canggung. Sikap alamiah mereka adalah suatu sikap setengah-tegak dan termasuk di situ penggunaan tangan mereka. Mayoritasnya menunjangkan buku-buku kepalan tangan mereka ke atas tanah dan, dengan kedua kaki mereka terangkat, mengayunkan tubuh mereka melalui lengan-lengan mereka yang panjang, mirip sekali sebagaimana seorang pincang bergerak dengan bantuan penopang-penopang. Pada umumnya, dewasa ini pun kita masih dapat menyaksikan di antara kera-kera semua tahapan peralihan dari berjalan di atas ke-empat anggota badan pada berjalan di atas kedua kaki. Tetapi tiada dari mereka yang menjadikan metode tersebut terakhir itu lebih daripada suatu pengganti sementara.

Sikap tegak di kalangan leluhur kita yang berbulu itu lebih dulu menjadi kebiasaan dan pada waktunya (dengan berlalunya waktu) menjadi suatu keharusan mengisyaratkan bahwa sementara itu kian banyak kegiatan bergantung pada tangan (kedua tangan). Bahkan di kalangan kera sudah berlaku suatu pembagian tertentu dalam penggunaan tangan dan kaki. Yang pertama terutama digunakan untuk mengumpulkan dan memegang makanan, sebagaiman sudah terjadi/berlaku penggunaan cakar-depan di kalangan mamalia rendahan. Banyak kera menggunakan kedua tangan mereka untuk membangun sarang-sarang untuk diri mereka sendiri di pepohonan atau bahkan, seperti Orang-Utan, membangun atap-atap di antara cabang-cabang untuk perlindungan terhadap cuaca. Dengan kedua tangan mereka memegang anak-anaknya untuk melindungi diri terhadap musuh, atau membombardir yang tersebut belakangan itu dengan buah-buah dan batu-batu. Dalam keadaan tertangkap, dengan kedua tangan mereka, dilakukannya sejumlah gerakan sederhana yang diturun (ditirukan) dari makhluk manusia. Tetapi justru di sinilah orang melihat betapa lebar jurang antara tangan yang tidak berkembang dari bahkan kera-kera yang paling antropoid dan tangan manusia yang telah sangat disempurnakan oleh kerja selama ratusan ribu tahun. Jumlah dan tatanan umum tulang-tulang dan otot-otot sama pada kedua-duanya; tetapi tangan dari (orang-) biadab terendah dapat melakukan ratusan operasi yang tidak dapat ditirukan oleh tangan kera. Tiada tangan monyet pernah menggubah bahkan pisau dari batu yang paling kasar.

Pertama-tama, sebagai akibat hukum pertalian/hubungan pertumbuhan, sebagaimana Darwin menamakannya. Menurut hukum ini, bentuk bentuk tertentu dari bagian-bagian individual suatu makhluk organik selalu bersangkutan dengan bentuk-bentuk tertentu bagian-bagian lain yang tampaknya tiada hubungan dengan yang tersebut duluan. Demikianlah semua khewan yang mempunyai sel-sel darah merah tanpa suatu inti sel, dan di mana occiput (belakang-kepala) dihubungkan pada vertebra pertama oleh sebuah artikulasi rangkap (condyles), juga tanpa kecuali memiliki kelenjar lakteal (susu) untuk menyusui anak mereka. Demikian pula kuku-kuku-terbelah pada mamalia secara teratur dihubungkan dengan pemilikan perut-ganda untuk memamah-biak. Perubahan-perubahan bentuk-bentuk tertentu menyangkut perubahan-perubahan dalam bentuk bagian-bagian lain dari tubuh, sekalipun kita tidak dapat menjelaskan hubungan ini. Kucing-kucing yang putih-sempurna dengan sepasang mata biru selalu, atau nyaris selalu, tuli. Berangsur-angsur semakin sempurnanya tangan manusia, dan perkembangan sejalan dan adaptasi kedua kaki untuk sikap tegak, tak-mustahil juga, disebabkan oleh perkaitan-perkaitan seperti itu, bereaksi pada bagian-bagian lain dari organisme itu. Namun, aksi ini masih terlalu sedikit diteliti untuk kita dapat melalukan lebih banyak di sini daripada mengemukakan kenyataan itu secara umum-umum saja.

Yang jauh lebih penting adalah reaksi langsung, yang terbukti dari perkembangan tangan atas selebihnya organisme. Seperti yang sudah dikatakan, leluhur kita yang kera itu suka berkumpul-kumpul; jelas sekali tidak mungkin mencari asal (derivasi) manusia, yaitu yang paling sosial dari semua khewan, dari leluhur dekat yang tidak suka berkumpul-kumpul. Penguasaan atas alam, yang dimulai dengan perkembangan tangan, dengan kerja, meluaskan cakrawala manusia pada setiap kemajuan baru. Ia terus-menerus menemukan sifat-sifat baru dari objek-objek alam yang hingga saat itu tidak diketahuinya. Di lain pihak, perkembangan kerja mau- tidak mau membantu semakin mendekatnya anggota-anggota masyarakat satu sama lain dengan menggandakan kasus-kasus saling-dukung-mendukung, kegiatan bersama, dan dengan membikin jelas keuntungan kegiatan bersama ini bagi setiap individu. Singkatnysa, manusia yang sedang menjadi itu sampai pada titik di mana ada sesuatu yang mesti mereka katakan satu sama yang lain. Kebutuhan ini menghasilkan penciptaan organnya; dengan modulasi larinks (pangkal tenggorokan) kera yang belum berkembang itu perlahan-lahan tetapi pasti berubah untuk modulasi yang semakin lebih berkembang lagi, dan organ-organ mulut berangsur-angsur belajar mengucapkan sebuah huruf artikulat menyusul huruf artikulat lainnya.

Perbandingan-perbandingan dengan hewan-hewan membuktikan bahwa penjelasan mengenai asal-usul bahasa ini dari kerja dan bersama dengan kerja adalah satu-satunya penjelasan yang benar. Yang sedikit yang bahkan khewan-khewan yang paling berkembang tinggi mesti saling komunikasikan satu sama lain dapat disampaikan bahkan tanpa ucapan artikulat. Dalam suatu keadaan alamiah, tiada khewan yang terhalang oleh ketidak-mampuannya untuk berbicara atau untuk memahami ucapan manusia. Berbeda sekali apabila khewan itu telah dijinakkan oleh manusia. Anjing dan kuda, dengan pergaulannya dengan mansuia, telah mengembangkan pendengaran yang sedemikian baiknya pada ucapan artikulat sehingga mereka dengan mudah belajar mengerti setiap bahasa dalam jangkauan lingkaran ide-ide mereka. Lebih daripada itu, mereka telah memperoleh kemampuan akan perasaan-perasaan, seperti rasa kasih pada manusia, rasa berterima-kasih, dsb., yang sebelumnya asing bagi mereka. Siapa saja yang banyak hubungannya dengan hewan-hewan seperti itu nyaris tidak dapat menghindari keyakinan bahwa terdapat banyak kejadian di mana mereka kini merasa ketidak-mampuan mereka untuk bicara sebagai suatu cacat, sekalipun, sayangnya, itu tidak dapat lagi diobati karena organ-organ vokal mereka telah dispesialisasikan dalam satu arah tertentu. Namun, di mana organ itu ada, dalam batas-batas tertentu bahkan ketidak-mampuan ini menghilang. Organ-organ bukkal (buccal) burung-burung sudah tentu berbeda sekali dari organ-organ bukkal manusia, namun hanya burung-burung adalah hewan-hewan yang dapat belajar berbicara; dan adalah burung dengan suara yang paling ganjil/seram, kakatua, yang paling pintar berbicara. Janganlah ditentang kenyataan bahwa burung beo/nuri itu tidak mengerti apa yang dikatakannya. Memang benar bahwa untuk kesenangan berbicara semata-mata dan untuk bergaul dengan manusia, burung beo/nuri itu akan mengoceh berjam-jam lamanya, terus-menerus mengulangi seluruh vokabularinya. Tetapi di dalam batas-batas lingkaran ide-idenya ia juga dapat belajar mengerti apa yang dikatakannya. Ajarkanlah pada seekor burung beo/nuri kata-kata makian dengan cara sedemikian rupa sehingga ia dapat membayangkan artinya (salah satu hiburan paling mengasyikkan para pelaut yang pulang dari daerah tropik); godalah dan anda akan segera menemukan bahwa ia mengetahui cara mengunakan kata-kata cacian itu dengan tak-kalah tepatnya dengan seorang penjual-ikan Berlin. Demikian pula dalam mengemis jajanan.

Pertama kerja, setelah itu, dan kemudian dengan itu, ucapan artikulat--inilah dua rangsangan (stimuli) paling mendasar yang mempengaruhi otak kera secara berangsur-angsur berubah menjadi otak manusia, yang dengan segala kesamaannya dengan yang tersebut duluan adalah jauh lebih besar dan jauh lebih sempurna. Bergandengan dengan perkembangan otak berlangsunglah perkembangan alat-alatnya yang paling langsung-- organ-organ inderawi. Tepat sebagaimana perkembangan berangsur-angsur berucap itu mau-tak-mau dibarengi penghalusan/penyempurnaan yang bersesuaian dari organ pendengaran, demikian pula perkembangan otak secara keseluruhan dibarengi suatu penyempurnaan semua indera. Burung elang melihat jauh melebihi pengelihatan manusia, tetapi mata manusia melihat jauh lebih banyak dalam benda-benda daripada yang dilihat mata elang. Anjing memiliki daya penciuman yang jauh lebih tajam daripada manusia, tetapi ia tidak membedakan seperseratus bau-bauan yang bagi manusia adalah ciri-ciri tertentu dari berbagai-bagai benda. Dan indera sentuh, yang nyaris tidak dimiliki kera dalam bentuk awalnya yang paling kasar, hanya telah berkembangan secara bersama dengan perkembangan tangan manusia itu sendiri, melalui medium kerja.

Reaksi atas kerja dan berucap dari perkembangan otak dan indera-indera pengiringnya, dari semakin jelasnya kesadaran, daya abstraksi dan penilaian, memberikan dorongan/impuls yang selalu-diperbarui pada perkembangan lebih lanjut bagi kerja maupun berucap. Perkembangan lebih lanjut ini tidak mencapai kesudahannya ketika manusia akhirnya menjadi berbeda dari kera, tetapi, secara keseluruhannya, telah berlanjut terus untuk maju dengan semakin perkasa, berbeda dalam derajat dan arah di antara berbagai rakyat dan pada waktu-waktu yang berbeda, dan di sana-sini bahkan diselangi oleh kemunduran lokal atau sementara. Perkembangan lebih lanjut ini telah dengan kuat didorong maju, di satu pihak, dan telah dipandu mengikuti arah-arah yang semakin pasti di lain pihak, karena adanya suatu unsur baru yang berperan dengan permunculan manusia yang seutuhnya, yaitu, masyarakat.

Ratusan ribu tahun--yang tidak mempunyai maka lebih besar dalam sejarah bumi daripada sedetik dalam kehidupan manusia*)--jelas telah berlalu sebelum masyarakat manusia lahir dari segerombolan kera pemanjat-pohon. Betapapun, ia akhirnya muncul juga. Dan apakah yang sekali lagi kita temukan sebagai perbedaan karakteristik antara gerombolan kera dan masyarakat manusia? Kerja. Gerombolan kera itu puas dengan menjelajahi daerah tempat-makan yang ditentukan baginya oleh kondisi-kondisi geografikal atau perlawanan gerombolan- gerombolan yang bertetangga; gerombolan kera itu melakukan migrasi-migrasi dan perjuangan-perjuangan untuk merebut daerah-daerah tempat-makan baru, tetapi ia tidak mampu mengambil dari situ lebih daripada yang disediakan dalam keadaan alamiahnya itu, kecuali gerombolan kera itu secara tidak sadar merabuki tanah itu dengan kotoran-badan mereka sendiri. Segera setelah daerah persediaan makanan itu ditempati, tidak mungkin lagi populasi kera itu bertambah lagi; jumlah hewan itu paling-paling tetap saja. Tetapi semua hewan menghabiskan/memboroskan banyak sekali makanan, dan, lebih-lebih lagi, menghancurkan generasi persediaan makanan berikutnya dalam keadaan embrional. Tidak seperti seorang pemburu, srigala tidak mencadangkan/membiarkan induk kijang yang di tahun berikutnya akan memberikan anak-anak kijang; kambing-kambing di Junani yang merumput habis semak-semak muda sebelum tumbuh besar, telah merumput gundul semua daerah pegunungan negeri itu. "Ekonomi buas" hewan-hewan ini memainkan suatu peranan penting dalam transformasi spesies secara berangsur-angsur dengan memaksa mereka mengadaptasi diri pada makanan-makanan yang lain daripada biasanya, dan berkat itu darah mereka memperoleh suatu komposisi kimiawi yang berbeda dan seluruh susunan fisikal berangsur-angsur berubah, sedangkan spesies yang sudah mantap menjadi punah. Tidak disangsikan lagi bahwa perekonomian buas ini telah sangat besar sumbangsihnya pada peralihan leluhur kita dari kera pada manusia. Dalam suatu bangsa kera-kera yang jauh melampaui semua lainnya dalam inteligensi dan daya-penyesuaian-diri, perekonomian buas ini tidak bisa tidak menghasilkan peningkatan terus-menerus dalam jumlah tanaman yang diperuntukkan sebagai makanan dan pada pelahapan bagian-bagian yang semakin dapat dimakan dari tanaman-tanaman ini. Singkatnya, ia menjadikan makanan semakin lebih beranega-ragam, dan dengan begitu juga substansi-substansi yang masuk ke dalam tubuh, premis-premis kimiawi bagi peralihan menjadi/pada manusia. Tetapi semua itu masih belum kerja dalam arti sebenarnya. Kerja dimulai dengan dibuatnya alat-alat/perkakas. Dan apakah alat-alat paling purba yang kita temukan--paling kuno jika dinilai dari pusaka-pusaka manusia pra-sejarah yang telah di temukan, dan dari cara hidup rakyat-rakyat dari sejarah paling dini dan dari orang-orang biadab masa kini yang paling primitif? Yaitu perkakas-perkakas berburu dan penangkapan ikan, yang tersebut duluan sekaligus dipakai sebagai senjata. Tetapi perburuan dan penangkapan ikan mengandaikan peralihan dari suatu diet yang khususnya vegetabel pada makanan serba-daging yang cocok (seiring), dan kita dapatkan di sini suatu langkah mendasar lainnya dalam peralihan menjadi/pada manusia. Suatu diet serba-daging mengandung (berarti) substansi-substansi yang paling pokok--dalam suatu keadaan yang hampir jadi--yang diperlukan oleh organisme bagi metabolismenya. Ia mempersingkat waktu yang diperlukan, tidak hanya bagi pencernaan, melainkan juga bagi proses-proses vegetatif badaniah lainnya yang bersesuaian dengan proses kehidupan tetumbuhan, dan dengan demikian memperoleh waktu, bahan dan hasrat lebih lanjut bagi manifestasi aktif dari kehidupan hewani dalam arti sebenarnya dari kata itu. Dan semakin jauh manusia yang sedang menjadi itu meninggalkan dunia tetumbuhan, semakin tinggi juga ia naik di atas hewan-hewan. Tepat sebagaimana terbiasanya pada suatu diet tetumbuhan berdampingan dengan suatu diet dengan daging telah mengubah kucing-kucing dan anjing-anjing liar menjadi pelayan-pelayan manusia, demikian pula adaptasi pada suatu diet ikan, bersama-sama dengan suatu diet vegetabel, sangat menyumbang dalam penyusunan kekuatan dan kebebasan badaniah pada manusia yang sedang menjadi itu. Namun, efek paling mendasar dari suatu diet daging yalah atas otak, yang kini menerima aliran bahan-bahan yang jauh lebih kaya, yang diperlukan bagi pemeliharaan dan perkembangan, dan yang karenanya dapat berkembang lebih cepat dan sempurna dari generasi ke generasi. Dengan segala hormat pada para vegetarian, mestilah diakui bahwa manusia tidak menjadi "ada" tanpa suatu diet daging, dan jika yang tersebut belakangan, di antara semua rakyat yang kita ketahui, telah membawa pada kanibalisme pada suatu masa atau lainnya (leluhur kaum Berliner, Weletabian atau Wilzian, biasa makan orang tua mereka sampai abad ke sepuluh), itu tiada arti apa-apa bagi kita dewasa ini.

Suatu diet daging membawa pada dua kemajuan baru yang mempunyai arti-penting menentukan: pada penggunaan api dan penjinakan khewan-khewan. Yang tersebut duluan lebih lanjut mempersingkat proses pencernaan, karena kepada mulut ia memberikan makanan yang sudah, boleh dikatakan, setengah-dicerna; yang kedua membuat daging berlebih dengan membukakan suatu sumber suplai baru yang lebih teratur di samping perburuan, dan lagi pula memberikan, dengan susu dan hasil-hasilnya, suatu bahan makanan baru yang paling sedikit sama bernilainya dengan daging dalam komposisinya. Demikianlah, kedua kemajuan ini langsung menjadi alat-alat emansipasi yang baru bagi manusia. Akan membawa diri kita terlalu jauh jika di sini kita memerinci lebih lanjut efek-efek tidak-langsungnya, betapapun besar makna yang dikandung/dipunyainya bagi perkembangan manusia dan masyarakat.

Tepat sebagaimana manusia telah belajar mengonsumsi segala yang dapat dimakan, ia juga telah belajar hidup di iklim apa saja. Ia menyebar ke seluruh dunia yang dapat ditinggali, menjadi satu-satunya hewan yang dapat melakukan itu atas pilihannya sendiri. Khewan-khewan lain yang telah menjadi terbiasa pada segala iklim--hewan-hewan domestik dan binatang-binatang kecil pengganggu--tidak menjadi sebebas itu, melainkan hanya sesudah manusia. Dan peralihan dari keseragaman iklim panas tempat asal manusia ke daerah-daerah lebih dingin, di mana tahun terbagi menjadi musim panas dan musim dingin, menciptakan syarat-syarat baru: tempat berteduh dan pakaian untuk perlindungan terhadap kedinginan dan kelembaban, lingkungan-lingkungan baru untuk kerja dan karenanya bentuk-bentuk kegiatan baru, yang lebih lanjut semakin memisahkan manusia dari hewan.

Dengan kerja-sama tangan, organ-organ bicara, dan otak, tidak hanya pada setiap individu, melainkan juga dalam masyarakat, makhluk manusia menjadi berkemampuan melaksanakan operasi-operasi yang semakin lebih rumit, dan menetapkan dan mencapai tujuan-tujuan yang tinggi dan kian meninggi. Dari generasi demi generasi, kerja itu sendiri menjadi berbeda, semakin sempurna, semakin beraneka-ragam. Agrikultur ditambahkan pada perburuan dan peternakan, kemudian menenun, menganyam, pengerjaan logam, tembikar, dan navigasi. Bersama-sama dengan perdagangan dan industri, akhirnya muncullah seni dan ilmu-pengetahuan. Dari suku-suku berkembanglah nasion-nasion dan negara-negara. Hukum dan politik lahir, dan bersama itu refleksi fantastik mengenai masalah-masalah manusia di dalam pikiran manusia: religi. Di hadapan segala penciptaan ini, yang muncul pertama-tama sebagai produk-produk pikiran, dan yang tampak mendominasi masyarakat-masyarakat manusia, produksi-produksi yang lebih sederhana dari tangan yang bekerja mundur ke latar-belakang, semakin menjadi-jadi begitu karena pikiran yang merencanakan proses kerja sudah berada pada tahap dini dari perkembangan masyarakat (misalnya, sudah di dalam keluarga sederhana), telah mampu membuat kerja berencana ini dilaksanakan oleh tangan-tangan lain dan bukan tangan-tangan sendiri. Semua jasa kemajuan pesat peradaban dijulukkan pada pikiran, pada perkembangan dan kegiatan otak. Manusia menjadi terbiasa untuk menjelaskan tindakan-tindakan mereka dari pikiran-pikiran mereka, gantinya dari kebutuhan-kebutuhan mereka (yang, dengan setiap kasus direnungkan, menjadi kesadaran di dalam pikiran)--maka lahirnya dalam berlalunya waktu itu, pandangan idealistik mengenai dunia yang, khususnya sejak keruntuhan dunia kuno, telah menguasai pikiran-pikiran manusia. Itu sampai batas jauh masih menguasai mereka sehingga bahkan ilmuwan-ilmuwan alam yang paling materialistik dari aliran Darwinian masih belum mampu membentuk suatu gagasan yang jelas mengenai asal-usul manusia, karena di bawah pengaruh ideologikal itu mereka tidak mengakui peranan yang telah dimainkan di dalamnya oleh kerja.

Hewan-hewan, seperti sudah ditunjukkan, mengubah alam eksternal dengan kegiatan-kegiatan mereka sebagaimana yang juga dilakukan oleh manusia, sekalipun tidak dalam jangkauan yang sama, dan perubahan-perubahan yang mereka lakukan pada lingkungan mereka, sebagaimanma telah kita lihat, pada gilirannya bereaksi atas dan mengubah originator-originator mereka. Karena tiada sesuatu pun dalam alam terjadi secara terisolasi. Segala sesuatu mempengaruhi setiap hal lainnya dan vice versa, dan terutama karena gerak dan interaksi yang bersegi-menyeluruh ini dilupakan, maka para ilmuwan alam kita terhalangi untuk melihat dengan jelas hal-hal yang paling sederhana.. Kita telah mengetahui bagaimana kambing-kambing telah mencegah regenerasi hutan-hutan di Junani; di St. Helena, kambing-kambing dan babi-babi yang dibawa oleh pelaut-pelaut pertama yang tiba di sana telah nyaris berhasil untuk sepenuhnya memusnahkan vegetasi tua pulau itu, dan dengan demikian menyiapkan tanah bagi penyebaran tanaman-tanaman yang dibawa oleh pelaut-pelaut dan kolonis-kolonis. Tetapi, apabila hewan-hewan mengerahkan suatu efek bersinambungan atas lingkungan mereka, itu terjadi secara tidak disengaja, dan, sejauh yang menyangkut hewan-hewan itu sendiri, itu adalah suatu kekebetulan. Semakin jauh manusia terpisah dari hewan-hewan, semakin pula efek mereka atas alam memperoleh sifat aksi yang disengaja, yang direncanakan yang mengarah pada tujuan-tujuan tertentu yang diketahui sebelumnya. Hewan-hewan menghancurkan vegetasi suatu lokalitas tanpa menyadari apa yang dilakukannya. Manusia menghancurkan/merusaknya agar dapat menebar tanaman-tanaman ladang di atas tanah yang telah dibebaskannya dengan cara itu, atau untuk menanam pohoh-pohon atau anggur-angguran yang diketahuinya akan menghasilkan sekian kali lipat benih yang ditebarkannya. Ia memindahkan tanaman-tanaman yang berguna dan hewan-hewan domestik dari satu negeri ke lain negeri dan dengan demikian mengubah flora dan fauna benua-benua seluruhnya. Lebih dari itu. Lewat perkembangan-biakan buatan, baik hewan maupun tanaman juga diubah oleh manusia sehingga mereka menjadi tidak dapat dikenali lagi. Tanaman-tanaman liar yang menjadi asal-usul varitas-varitas biji-bijian kita masih dicari tanpa hasil. Masalah binatang liar yang menjadi asal-usul anjing-anjing kita, dengan anjing-anjing itu sendiri begitu berbeda-beda satu sama lainnya, atau sama banyaknya kuda-kuda yang hasil perkembang-biakan, juga masih dipertengkarkan.

Sudah tentu tidak usah dikatakan, bahwa kita tidak bermaksud mempersoalkan kemampuan khewan-khewan untuk berkelakuan dengan gaya yang terencana dan sengaja. Sebaliknya, suatu gaya tindakan berencana terdapat secara embrional kapan saja protoplasma, protein hidup, terdapat dan bereaksi, yaitu, melaksanakan gerakan-gerakan tertentu, bahkan apabila luar-biasa sederhana, sebagai hasil dari rangsangan eksternal tertentu. Reaksi seperti itu bahkan terjadi ketika sama sekali masih belum ada sel, apalagi suatu sel syaraf. Cara tanaman-tanaman pemakan serangga menangkap mangsa mereka muncul pula hingga batas tertentu sebagai suatu tindakan berencana, sekalipun dilakukan secara sangat tidak sadar. Pada hewan-hewan kapasitas akan tindakan berencana, yang sadar, berkembang bersamaan dengan perkembangan sistem persyarafan dan di antara binatang-binatang mamalia hal itu mencapai suatu tingkat yang tinggi sekali. Selagi berburu-rubah di Inggris, setiap hari orang dapat menyaksikan betapa dengan tepat sekali seekor rubah itu mengetahui caranya memanfaatkan pengetahuannya mengenai lokalitas untuk meloloskan diri dari pemburu-pemburunya, dan betapa baik pengetahuannya dan memanfaatkan semua ciri daerah (tanah) yang menguntungkan itu sehingga baunya dapat disesatkan. Di antara binatang-binatang piaraan kita, yang lebih tinggi perkembangannya berkat pergaulannya dengan manusia, setiap hari dapat disaksikan tindakan-tindakan penuh akal yang tepat sama tingkatnya seperti yang dilakukan oleh anak-anak. Karena, tepat sebagaimana sejarah pembangunan/perkembangan janin manusia di dalam perut ibu hanyalah suatu ulangan yang dipersingkat dari sejarah, yang terentang jutaan tahun, dari evolusi badaniah leluhur-leluhur khewani kita, dimulai dari cacing, begitulah perkembang-an mental anak manusia hanyalah suatu ulangan yang lebih diringkaskan lagi dari perkembangan intelektual leluhur-leluhur yang sama ini, setidak-tidaknya dari yang lebih belakangan. Tetapi semua tindakan berencana dari semua khewan tidak pernah berhasil membubuhkan cap kehendak mereka pada dunia. Harus manusialah yang melakukan itu.

Singkatnya, hewan itu cuma menggunakan alam eksternal, dan melahirkan perubahan-perubahan padanya hanya dengan kehadirannya; manusia dengan perubahan-perubahannya menjadikannya melayani kepentingan-kepentingannya, menguasai-nya. Inilah perbedaan hakiki, final, antara manusia dan khewan-khewan lainnya, dan sekali lagi adalah kerja yang melahirkan perbedaan ini.**)

Namun, janganlah kita terlampau membanggakan diri kita atas penaklukan-penaklukan kita atas/terhadap alam. Karena masing- masing penaklukan itu berbalas-dendam terhadap kita. Masing-masingnya, memang benar, pertama-tama berkonsekuensi yang kita perhitungkan, tetapi di tempat kedua dan ketiga mempunyai akibat-akibat yang sangat berbeda, yang di luar duga-dugaan terlalu sering hanya membatalkan hasil yang pertama itu. Orang-orang yang, di Mesopotamia, Yunani, Asia-Kecil, dan di lain-lain tempat, menghancurkan hutan-hutan untuk mendapatkan tanah yang bisa digarap, tidak bermimpi bahwa mereka sedang meletakkan dasar bagi kondisi kerusakan dewasa ini di negeri-negeri itu, dengan menyingkirkan bersama hutan-hutan itu, pusat-pusat pengumpulan dan penyimpanan-penyimpanan uap-lembab. Manakala, di landaian-landaian pegunungan sebelah Selatan, orang-orang Italia dari Alpen menghabiskan hutan-hutan pohon cemara yang dengan begitu penuh perhatian dijadikan tumpuan harapan mereka di landaian-landaian sebelah Utara, mereka tidak menyadari bahwa dengan berbuat begitu mereka memotong akar-akar industri susu di wilayah mereka; mereka bahkan lebih tidak menyadari bahwa dengan itu mereka menghilangkan sebagian besar sumber-sumber air pegunungan mereka dalam setahun, memungkinkan bagi sumber-sumber air itu menumpahkan keganasan luapan-banjir ke dataran-dataran selama musim hujan. Orang-orang yang menyebarkan kentang di Eropa tidak menyadari bahwa dengan ubi-ubi berbubuk ini mereka sekaligus menyebarkan penyakit skrofula. Demikianlah pada setiap langkah kita diingatkan bahwa kita sama sekali tidak berkuasa atas alam seperti seorang penakluk atas suatu bangsa asing, seperti seseorang yang berdiri di luar alam--tetapi bahwa kita, dengan daging, darah dan otak, termasuk dalam alam, dan berada di tengah-tengahnya, dan bahwa semua penguasaan kita atasnya terdiri atas kenyataan bahwa kita mempunyai kelebihan di atas semua makhluk lainnya dengan mampu mengetahui dan dengan tepat menerapkan hukum-hukumnya.

Dan sebenarnyalah, dengan setiap hari yang berlalu kita belajar memahami hukum-hukum ini secara lebih tepat, dan menjadi mengenal akibat-akibat yang lebih langsung dan/maupun yang lebih jauh dari campur-tangan kita dengan proses alam tradisional. Khususnya, setelah kemajuan-kemajuan perkasa ilmu-alam dalam abad sekarang, kita semakin ditempatkan dalam suatu kedudukan di mana kita dapat mengetahui, dan karenanya mengendalikan, bahkan akibat-akibat alamiah yang lebih jauh lagi, paling tidak dari kegiatan-kegiatan produktif kita yang paling umum. Namun, semakin hal ini terjadi, semakin pula manusia tidak hanya akan merasa, tetapi juga mengetahui, kesatuan diri mereka dengan alam, dan dengan demikian semakin tidak mungkinnya gagasan yang tidak masuk akal dan anti-alam mengenai suatu pertentangan antara pikiran dan materi, manusia dan alam, jiwa dan badan, seperti yang timbul/lahir di Eropa sesudah keruntuhan kekunoan (keantikan=antiquity) klasik dan yang mendapatkan elaborasinya yang paling tinggi dalam kekristianian.

Tetapi, apabila sudah dibutuhkan kerja beribu-ribu tahun bagi kita untuk hingga batas tertentu belajar memperhitungkan akibat- akibat alamiah yang lebih jauh lagi dari tindakan-tindakan kita yang ditujukan pada produksi, adalah lebih sulit lagi yang bertautan dengan akibat-akibat sosial yang lebih jauh dari tindakan-tindakan ini. Kita sudah menyinggung kentang itu dan penyebaran skrofula yang diakibatkannya. Tetapi apakah skrofula itu jika dibandingkan dengan efek atas kondisi kehidupan massa rakyat di keseluruhan negeri-negeri yang diakibatkan karena kaum pekerja direduksi pada suatu diet kentang, atau jika dibandingkan dengan kelaparan yang melanda Irlandia pada tahun 1847 sebagai akibat penyakit-tumbuh-tumbuhan kentang, dan yang mengirimkan sejuta orang Irlandia ke kuburan, karena diberi makan kentang dan nyaris seluruhnya kentang saja, dan memaksakan pengemigrasian lebih dari dua juta orang? Ketika orang-orang Arab belajar menyuling alkohol, tak pernah terpikir oleh mereka bahwa dengan melakukan itu mereka menciptakan salah-satu senjata utama bagi pemusnahan kaum aborigin (penduduk asli) dari benua Amerika yang ketika itu belum ditemukan. Dan ketika Columbus kemudian menemukan Amerika, ia tidak mengetahui bahwa dengan berbuat begitu ia memberikan suatu kesempatan hidup baru pada perbudakan, yang di Eropa telah lama berselang dihapus, dan meletakan dasar bagi perdagangan budak Negro. Orang-orang yang pada abad-abad ke tujuhbelas dan delapan belas berusaha keras menciptakan mesin-uap tidak membayangkan bahwa mereka sedang menyiapkan perkakas yang lebih daripada perkakas lainnya akan merevolusionerkan kondisi-kondisi sosial di seluruh dunia. Teristimewa di Eropa, dengan memusatkan kekayaan di tanggan suatu minoritas, dengan mayoritas yang luar-biasa besarnya dijadikan tidak-memiliki apapun, perkakas ini mula-mula dimaksudkan untuk memberikan dominasi sosial dan politikal pada burjuasi, dan kemudian, namun, melahirkan suatu perjuangan klas antara burjuasi dan proletariat, yang hanya dapat berakhir dengan penumbangan burjuasi dan penghapusan semua antagonisme klas. Tetapi juga di bidang ini, lewat pengalaman panjang dan sering kejam dan dengankmengumpulkan dan menelaah material sejarah, kita berangsur-angsur belajar memperoleh suatu pandangan yang jelas mengenai akibat-akibat sosial yang tidak langsung, yang lebih jauh dari kegiatan produktif kita, dan dengan begitu terbuka peluang/kemungkinan bagi kita untuk menguasai dan mengatur akibat-akibat ini juga.

Untuk menjalankan pengaturan ini diperlukan sesuatu yang lebih daripada sekedar pengetahuan. Ia menuntut suatu revolusi lengkap dalam cara produksi kita yang ada hingga sekarang, dan dengan itu juga keseluruhan tatanan sosial kita dewasa ini.

Semua cara produksi yang ada hingga sekarang semata-mata telah diarahkan pada pencapaian efek kerja yang paling segera dan paling langsung berguna. Akibat-akibat selanjutnya, yang baru kemudian muncul dan menjadi efektif melalui pengulangan dan akumulasi secara berangsur-angsur, sama sekali diabaikan. Pemilikan komunal asali atas tanah bersesuaian, di satu pihak, dengan suatu tingkat perkembangan makhluk manusia di mana cakrawala mereka pada umumnya terbatas pada yang terdapat paling langsung di dekatnya, dan mengandaikan, di pihak lain, suatu kelebihan tertentu dari tanah yang tersedia, yang memperkenankan suatu kelonggaraan tertentu untuk pengoreksian setiap kemungkinan hasil-hasil buruk dari tipe primitif perekonomian ini. Ketika kelebihan tanah ini terpakai habis, hak pemilikan komunal juga runtuh. Semua bentuk produksi yang lebih tinggi, namun, membawa pada pembagian penduduk menjadi berbagai klas dan dengan begitu pada antagonisme klas-klas yang berkuasa dan yang tertindas. Tetapi berkat ini pula kepentingan klas berkuasa menjadi faktor pendorong produksi, sejauh yang tersebut belakangan ini tidak dibatasi pada kebutuhan-kebutuhan hidup yang paling rendah dari rakyat tertindas. Hal ini telah dilaksanakan hampir selengkapnya di dalam cara produksi kapitalis yang berlaku dewasa ini di Eropa Barat. Para kapitalis individual, yang menguasai produksi dan pertukaran, hanya mampu melibatkan diri mereka dengan efek kegunaan yang paling langsung dari tindakan-tindakan mereka. Sebenarnyalah, bahkan efek kegunaan ini--sejauh-jauh itu suatu permasalahan mengenai kegunaan barang yang diproduksi atau dipertukarkan--langsung tergusur ke belkakjang, dan satu-satunya perangsang (insentif) menjadilah/adalah laba yang akan diperoleh dalam penjualan.

_________

Ilmu pengetahuan sosial kaum burjuasi, ekonomi-politik klasik, terutama hanya dipenuhi dengan efek-efek sosial tindakan-tindakan manusia yang langsung diniatkan dengan tujnuan produksi dan pertukaran. Ini sepenuhnya bersesuaian dengan organisasi sosial yang darinya ia merupakan pernyataan teoretikalnya. Karena para kapitalis individual terlibat dalam produksi dan pertukaran demi untuk laba segera, maka hanya hasil-hasil paling dekat, yang paling segera yang pertama-tama dapat diperhitungkan. Tatkala seorang penghasil (manufaktur) atau pedagang individual menjual atau membeli satu barang-dagangan manufaktur dengan laba yang berlaku umum, ia puas, dan ia tidak peduli apa yang terjadi kemudian dengan barang-dagangan itu dan para pembelinya. Hal serupa berlaku pada akibat-akibat alamiah tindakan-tindakan yang sama itu. Apa urusannya bagi para penanam Spanyol di Kuba, yang membakar habis hutan-hutan di landaian-landaian pegunungan dan dari abu-abunya memperoleh rabuk secukupnya untuk satu generasi pohon-pohon kopi yang sangat luar-biasa menguntungkan itu, apakah urusan bagi mereka bahwa hujan tropikal yang lebat setelah itu menyapu bersih lapisan atas tanah yang kini tidak terlindung itu, dengan meninggalkan hanya batu karang yang gundul? Dalam hubungan dengan alam, seperti dengan masyarakat, cara produksi sekarang terutama dan di atas segala-galanya hanya memikirkan hasil pertama, hasil yang paling dapat disentuh; dan kemudian dinyatakan keterkejutan bahwa akibat-akibat paling jauh dari tindakan-tindakan yang diarahkan pada tujuan ini ternyata sangat berbeda sekali,. bahkan teristimewa memiliki watak/sifat yang berlawanan; bahwa keserasian permintaan dan persediaan telah berubah menjadi pertentangan polar-(kutub-kutub)nya, seperti dibuktikan oleh proses tiap daur industrial sepuluh-tahun, dan bahwa juga Jerman mengalami suatu pendahuluan kecil dalam hal "keambrukan";92) bahwa milik perseorangan berdasarkan kerja individual mau tidak mau berkembang menjadi ketiada-pemilikan-apapun kaum pekerja, sedang semua kekayaan menjadi semakin dan kian terkonsentrasi di tangan-tangan kaum bukan-pekerja; bahwa [.....]93)

Catatan:

*) Seorang pakar terkemuka mengenai hal ini, Sir W. Thomson, telah memperhitungkan bahwa tidak kurang dari seratus juta tahun yang telah berlalu sejak bumi telah cukup mendingin bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan.

**) Pada pinggiran manuskrip tertulis dengan pensil: "pemuliaan".[ed.]
»»  READMORE...

ILMU-PENGETAHUAN ALAM DALAM DUNIA SPIRITUAL

Dialektika yang telah menemukan jalannya ke dalam kesadaran umum dinyatakan dalam pepatah tua, bahwa yang ekstrem-ekstrem itu bertemu. Bersesuaian dengan ini kita mestinya nyaris tidak akan salah dalam mencari derajat paling ekstrem dari fantasi, kepercayaan, dan ketahyulan, tidak dalam gaya kecenderungan ilmu-pengetahuan alam yang, seperti filsafat Jerman mengenai alam, mencoba memaksakan dunia objektif ke dalam kerangka-kerja pikiran subjektifnya, melainkan lebih pada kecenderungan sebaliknya, yang, dengan lebih mengutamakan pengalaman semata-mata, memperlakukan pikiran dengan penghinaanb penuh keangkuhan dan benar-benar telah sampai pada keekstreman kekosongan pikiran yang paling jauh. Aliran ini merajalela di Inggris. Bapaknya, Francis Bacon yang sangat dipuja-punja, sudah mengajukan tuntutan agar metode induktifnya, metode empirikalnya yang baru itu dijalankan demi untuk mencapai, di atas segala-galanya, lewat cara-caranya: kehidupan yang lebih panjang, peremajaan--hingga batas tertentu, perubahan sikap dan ciri-ciri tubuh, transformasi tubuh yang satu menjadi tubuh yang lain, produksi spesies baru, kekuasaan atas udara dan produksi badai-badai. Ia mengeluh bahwa penelitian-penelitian seperti itu telah ditinggalkan, dan dalam sejarah alamnya ia memberikan resep-resep definitif untuk membuat emas dan melaksanakan berbagai keajaiban. Secara sama, Isaac Newton dalam usianya yang tua teramat menyibukkan dirinya dengan menguraikan Wahyu St. John (Santo Johanes) Maka tidaklah mengherankan apabila pada tahun-tahun belakangan ini empirisisme Inggris dalam sosok sejumlah wakil-wakilnya--dan bukannya yang terburuk dari mereka--seperti terjatuh menjadi korban tidak tertolong lagi dari ocehan-roh dan penglihatan-roh yang diimport dari Amerika.

Sarjana ilmu-alam pertama yang termasuk di sini yalah ahli zoologi dan botani terkemuka, Alfred Russel Wallace, yang serempak dengan Darwin mengajukan teori mengenai perubahan spesies lewat seleksi alamiah. Dalam buku kecilnya, On Miracles and Modern Spiritualism, London, Burns, 1875, ia mengisahkan bahwa pengalaman-pengalaman pertamanya di cabang pengetahuan alam ini berasal dari tahun 1844, ketika ia mengikuti ceramah-ceramah Spencer Hall mengenai mesmerisme dan sebagai hasilnya melakukan eksperimen-eksperimen serupa dengan murid-muridnya.

"Aku sangat tertarik pada subjek itu dan mengikutinya dengan penuh semangat."(hal.119)

Ia tidak saja menghasilkan tidur magnetik dibarengi gejala kekakuan artikular dan hilangnya sensasi lokal, ia juga menguatkan kebenaran peta tengkorak Gall, karena dengan menyentuh salah- satu organ Gall, maka kegiatan yang bersesuaian ditimbulkan pada pasien yang dimagnetisasi dan diperagakan dengan gerakan-gerakan yang sepadan dan hidup. Selanjutnya, dibuktikannya bahwa pasiennya, hanya dengan disentuh saja, ikut merasakan semua sensasi sang operator; ia membuatnya mabok dengan segelas air seketika ia mengatakan pada pasien itu bahwa dalam gelas itu adalah brandi. Ia dapat menjadikan salah seorang dari orang-orang muda itu sedemikian tololnya, bahkan dalam keadaan sadar, sehingga pemuda itu tidak mengetahui lagi namanya sendiri, suatu prestasi--namun--yang mampu dicapai oleh guru-guru sekolah lainnya tanpa mesmerisme segala. Dan begitulah seterusnya.

Nah, kejadiannya ialah bahwa aku juga menyaksikan Spencer Hall ini pada musim dingin tahun 1843-44 di Manchester. Ia adalah seorang penglenik yang sangat sedang-sedang saja, yang mengelilingi negeri dengan pengayoman sejumlah pendeta dan melakukan peragaan-peragaan magnetiko-frenologikal dengan seorang wanita muda untuk dengan itu membuktikan keberadaannya Tuhan, kekekalan roh, dan ketidak-benaran materialisme yang sedang dikhotbahkan pada waktu itu oleh kaum Owen di semua kota-besar. Wanita itu dipulaskan dalam tidur magnetik dan kemudian, seketika operator itu menyentuh bagian-bagian dari tengkorak sesuai salah satu organ-organ Hall, wanita itu secara berlimpah memperagakan gerak-gerik dan sikap-sikap teatrikal dan demonstratif yang mencerminkan kegiatan organ bersangkutan; misalnya, untuk organ filoprogenitif ia membelai-belai dan menciumi seorang bayi imajiner, dsb. Lebih dari itu, Tuan Hall yang baik itu telah memperkaya geografi tengkorak Hall dengan sebuah pulau baru: Barataria32): tepat di puncak tengkorak (batok kepala) telah ditemukannya sebvuah organ pemujaan (venerasi), dengan disentuhnya titik itu, wanita dalam hipnose itu berlutut, merangkapkan kedua tangannya dalam berdioa, dan kepada para penonton yang filistin dan terpukau itu melukiskan suatu malaikat yang tenggelam dalam pemujaan. Itulah klimaks dan kesudahan peragaan itu. Eksistensi Tuhan telah dibuktikan.

Pengaruhnya atas diriku dan salah seorang kenalanku adalah sama seperti pengaruhnya atas Tuan Wallace; gejala-gejala itu menarik buat kami dan kami berusaha mencari tahu hingga seberapa jauh kami dapat mereproduksikannya. Seorang anak laki-laki yang sadar sesadar-sadarnya menawarkan dirinya sebagai subjek. Dengan menatap ke dalam matanya, atau dengan membelai-belainya, membuatnya tapnpa sedikitpun kesulitan ke dalam keadaan hipnotik. Namun, karena kami tidak begitu percaya seperti Tuan Wallace dan bekerja (melakukan itu) dengan kurang bersemangat, kami mencapai hasil-hasil yang sangat berbeda. Kecuali kekakuan otot-otot dan hilangnya sensasi, yang mudah dihasilkan, kami juga menemukan siuatu keadaan kepasivan kemauan secara total yang dibarengi suatu hiper-kepekaan yang aneh dari sensasi. Pasien itu, ketika dibangkitkan dari letharginya itu dengan rangsangan eksternal, memperagakan kelincahan yang jauh lebih besar daripada dalam keadaan sadar. Tiada jejak sesuatupun hubungan misterius dengan operator: siapapun dapat dengan sama mudahnya membuat yang tidur itu menjadi aktif. Untuk membuat organ-organ kranial (tengkorak) Gall itu beroperasi adalah sesuatu yang sangat mudah sekali bagi kami; kami bahkan melakukan yang lebih jauh, kami tidak hanya dapat saling menggantikan organ-organ itu yang satu dengan yang lainnya, atau membuat tempat mereka di mana saja dalam seluruh tubuh, melainkan kita juga membuat sejumlah organ-organ lain semau kami, organ-organ untuk menyanyi, bersiul, berseruling, menari, bertinju, menjahit, memasang batu, mengisap tembakau, dsb. dan kami dapat membuat tempat keberadaannya (kedudukannya) di mana saja menurut kehendak kami. Wallacde membuat pasien-pasiennya mabok dengan minum air, sedangkan kami menemukan di ibu-jari kaki sebuah organ kemabokan (titik mabok) yang cuma perlu disentuh untuk menghasilkan pelakonan komedi kemabokan yang paling bagus. Namun, harus dipahami betul, tiada satu pun organ menunjukkan tanda aksi sampai pasien itu dibikin mengerti mengenai apa yang diharapkan dari dirinya; anak laki-laki itu segera menyempurnakan dirinya dengan berlatih sedemikian rupa, sehingga sekedar indikasi saja sudah mencukupi. Organ-organ yang diproduksi dengan cara itu kemudian mempertahankan kesahihannya untuk kesempatan-kesempatan ditidurkan lagi di kemudian hari, selama organ-organ itu tidak diubah dengan cara yang sama. Pasien itu memang memiliki ingatan rangkap, yang ksatu untuk keadaan sadar dan yang kedua yang sangat terpisah untuk keadaan hipnotik itu. Mengenai kepasivan kemauan dan ketundukannya secara mutlak pada kemauan seorang ketiga, ini kehilangan semua tampilan keajaibannya jika kita memperhatikan bahwa seluruh keadaan itu dimulai dengan penundukan kemauan pasien itu pada kemauan sang operator, dan tidak dapat dihasilkan tanpa itu. Seorang magnetor magikal yang paling perkasa di dunia akan kehabisan dayanya pada saat pasiennya menertawakannya.

Sementara kami dengan skeptisisme kami yang tak-keruanan dengan demikian menemukan bahwa landasan perklenikan magnetiko-frenologikal terletak pada serangkaian gejala yang untuk sebagai besar hanya berbeda dalam derajatnya dari gejala-gejala keadaan sadar dan tidak memerlukan interpretasi mistikal, "semangat" Tuan Wallace membawa dirinya pada serentetan penipuan-diri, dan demi itu ia menguatkan peta tengkorak Gall dalam segala perinciannya dan menekankan suatu hubungan misterius antara operator dan pasien.*) Dalam seluruh kisah Tuan Wallace itu, yang kesungguhannya mencapai derajat naïveté‚ (naivitas, kepandiran), menjadilah jelas bahwa ia tidak lebih perduli untuk menyelidiki latar-belakang sebenarnya dari perklenikan itu daripada dalam mereproduksi semua gejala itu dengan mempertarohkan apapun. Hanya kerangka pikiran inilah yang diperlukan seseorang yang aslinya seorang sarjana untuk dengan cepat sekali diubah menjadi seorang ahli dengan jalan penipuan-diri yang sederhana dan gampang. Tuan Wallace berakhir dengan kepercayaan pada keajaiban-keajaiban magnetiko-frenologikal dan dengan begitu sudah dengan satu kaki berdiri di dunia roh-roh.

Ia menarik kaki yang satunya lagi ke situ pada tahun 1865. Sekembalinya dari perantauannya di daerah-daerah tropik selama duabelas tahun, eksperimen-eksperimen dalam "permainan-meja" (sejenis jailangkung dsb. Pent.) memperkenalkannya pada masyarakat berbagai "medium". Betapa pesat kemajuannya, dan betapa lengkap kemahirannya mengenai subjekt itu, dibuktikan oleh buku-kecil tersebut di atas. Ia mengharap kita menganggapnya sebagai kebenaran: bukan saja semua yang dikatakan sebagai keajaiban-keajaiban (mukjijat-mukjijat) Home, kakak-beradik Davenport, dan para "medium" lainnya, yang kesemuanya kurang-lebih memperagakan diri mereka untuk uang dan yang untuk bagian terbesar telah sering ditelanjangi sebagai penipu-penipu, namun juga berderet-deret riwayat roh-roh yang dikatakan otentik dari zaman-zaman dulu. Pithones-pithones dari orakel Yunani, tukang-tukang sihir dari Abad-abad Pertengahan, kesemuanya itu "medium-medium," dan Iamblichus dalam bukunya De divinatione sudah secara sangat cermat melukiskan

"gejala-gejala spiritualisme modern yang paling mencengangkan".(hal.229)

Sebuah contoh saja untuk memperlihatkan betapa sembrono Tuan Wallace memperlakukan pebuktian secara ilmiah dan otentikasi keajaiban-keajaiban ini. Jelas merupakan suatu asumsi yang kuat bahwa kita mesti percaya bahwa roh-roh tersebut di atas akan memperkenankan diri mereka difoto, dan kit a jelas mempunyai hak untuk menuntut bahwa foto-foto roh seperti itu diotentikasikan dengan cara yang paling sahih sebelum kita menerimanya sebagai murni. Nah, Tuan Wallace berkisah pada halaman 187, bahwa pada bulan Maret 1872, seorang medium terkemuka, Nyonya Guppy, yang dilahirkan Nicholls, telah membuat foto dirinya bersama suaminya dan seorang anak laki-laki kecil di tempat Tuan Hudson di Notting Hill, dan di atas dua foto yang berbeda dapat dilihat sosok seorang wanita jangkung, mengenakan jubah kain putih indah menerawang, dengan air-muka yang agak-ketimuran, berdiri di belakangnya (Nyonya Guppy) dengan suatu sikap bagaikan memberkahinya.

"Nah, di sini, satu dari dua hal yang secara mutlak pasti.**) Di sini, ada kehadiran suatu makhluk hidup, intelijen namun tidak kasat-mata, atau Tuan, dan Nyonya Guppy, sang juru-foto, dan seseorang ke empat, telah merancang sebuah penipuan jahat, dan berkukuh pada hal itu hingga sekarang. Mengenal baik Tuan dan Nyonya Guppy, sebagaimana aku mengenal mereka, aku merasakan suatu keyakinan mutlak bahwa mereka tidak-berkemampuan melakukan penipuan jenis ini seperti halnya setiap pencari kebenaran yang sungguh-sungguh di bidang ilmu-pengetahuan alam." (Hal. 188)

Maka itu, "atau" penipuan, "atau" foto roh. Benar sekali. Dan, apabila penipuan, maka roh itu "atau" sudah ada di atas lembar-lembar fotografik itu, "atau" keempat orang itu mestinya sudah bersangkutan/terlibat, atau tiga orang jika kita kesampingkan Tuan Guppy tua sebagai orang yang sudah lemah-pikiran atau dikorbankan, yang meninggal di bulan Januari 1875 dalam usia 84 tahun (yang diperlukan hanyalah menyuruh Tuan Guppy itu ke balik layar-belakang Spanyol itu). Bahwa seorang juru-foto bisa mendapatkan seorang "model" untuk roh itu tanpa sedikitpun kesulitan tidaklah perlu dipersoalkan di sini. Namun, juru-foto Hudson itu, tidak lama kemudian, secara umum telah dituntut karena kebiasaannya memalsukan foto-foto roh, sehingga Tuan Wallace demi peringanan menyatakan:

"Satu hal sudah jelas; apabila terjadi suatu penipuan, itu segera telah diketahui/terditeksi oleh para spiritualis itu sendiri." (Hal. 189)

Karenanya, foto-foto itu tidak dapat diandalkan. Tinggal sekarang Nyonya Guppy itu, dan baginya cuma ada "keyakinan mutlak" dari sahabat kita Wallace, hanya itu dan tiada apa-apa lagi. --Tiada apa-apa lagi? Oh, tidak! Kejujuran mutlak Nyonya Guppy itu dibuktikan oleh pernyataannya bahwa pada suatu petang, di awal bulan Juni 1871, dirinya telah dibawa melalui udara dalam suatu keadaan tidak-sadar dari rumahnya di Highbury Hill Park ke Lamb's Conduit Street no. 69--yaitu tiga mil Inggris lintas-udara--dan diturunkan di rumah no. 69 itu, ke atas meja di tengah-tengah suatu séance (acara) spiritualistik. Pintu- pintu masuk ruangan itu terkunci, dan sekalipun Nyonya Guppy termasuk salah seorang wanita paling gemuk di London, yang tentu saja banyak artinya, permunculannya yang tiba-tiba itu sama sekali tidak meninggalkan lubang sekecil apapun pada pintu-pintu atau di atap rumah itu. (Dilaporkan dalam Echo, London, 8 Juni 1871.) Dan apabila masih ada orang yang tidak mempercayai keaslian foto roh itu, maka tiada pertolongan baginya.

Ahli terkemuka yang kedua di antara para sarjana ilmu-alam Inggris adalah Tuan William Crookes, penemu unsur kimiawi thallium dan dari radiometer33) (di Jerman juga disebut "Lichtmühle"). Tuan Crookes mulai menyelidiki manifestasi-manifestasi spioritualistik pada sekitar tahun 1871, dan untuk maksud ini mengunakan sejumlah alat fisikal dan mekanikal, pengimbang-pengimbang pegas, bateri-bateri listrik, dsb. Apakah ia dalam pekerjaannya itu membawa serta alat utama yang diperlukan, yaitu pikiran kritikal yang skeptikal, atau apakah ia hingga akhirnya menjaga agar pikiran itu selalu dalam keadaan tangguh bekerja, akan kita lihat berikut ini. Betapapun, dalam waktu yang tidak sangat lama, Tuan Crookes sama terjeratnya seperti Tuan Wallace.

"Selama beberapa tahun," demikian ia berkisah, "seorang wanita muda, Nona Florence Cook, telah memperagakan kemampuan-sebagai-medium yang luar-biasa, yang akhir-akhir ini memuncak dalam memproduksi sesosok (suatu wujud) wanita penuh yang mengaku spiritual asal-usulnya, dan yang tampil bertelanjang-kaki dan mengenakan jubah-jubah putih berkibar selagi ia terbaring dalam pesona, dengan pakaian berwarna gelap dan terikat rapi dalam sebuah lemari atau di kamar sebelah."34)

Roh ini, yang menyebut namanya Katie, dan yang sangat mirip Nona Cook, pada suatu petang secara tiba-tiba dipeluk pada pinggangnya oleh Tuan Volckman--suami yang sekarang dari Nyonya Guppy--dan dipegang kencang-kencang untuk mengetahui apakah ia benar-benar bukan Nona Cook dalam edisi lain. Roh itu ternyata seorang gadis yang sangat kekar-kuat, ia mempertahankan diri dengan gigih, orang- orang yang hadir di situ campur-tangan, gas dimatikan, dan ketika, sesudah sedikit pergumulan, ketenangan dipulihkan kembali dan ruangan itu diterangi kembali, roh itu telah menghilang dan Nona Cook terbaring dalam ikatannya dan dalam keadaan tidak sadar di tempatnya di sudut sana. Betapapun, Tuan Volckman katanya hingga saat ini berkukuh bahwa ia telah menyambar Nona Cook dan bukan tubuh lainnya. Untuk membuktikan hal itu secara ilmiah, Tuan Varley, seorang ahli listrik terkenal, pada kesempatan suatu eksperimen baru, mengatur agar arus dari sebuah bateri mengalir melalui medium itu, Nona Cook, sedemikian rupa agar ia tidak dapat memainkan peranan roh itu tanpa menginterupsi arus itu. Betapapun, roh itu muncul juga. Karenanya, ia itu memang suatu makhluk yang berbeda dari Nona Cook. Untuk membuktikan hal ini lebih lanjut menjadi tugas Tuan Crookes. Langkahnya yang pertama yalah mendapatkan kepercayaan dari wanita spiritualistik itu.

Kepercayaan ini, demikianlah ia sendiri berkata pada dirinya sendiri di dalam Spiritualist, 5 Juni 1874, _berangsur-angsur meningkat sedemikian rupa hingga ia menolak memberikan suatu séance kecuali aku yang membuat penyelenggaraannya.--gejala- gejala itu sangat meningkat kekuatannya dan datanglah bukti-bukti secara berlimpah yang tidak mungkin diperoleh dengan cara lainnya. Ia seringkali berkonsultasi denganku mengenai orang-orang yang hadir pada séance-séance itu dan tempat-tempat yang mesti diberikan kepada mereka, karena akhir-akhir ini ia telah menjadi sangat gelisah disebabkan saran-saran buruk tertentu agar, kecuali metode-metode penyelidikan lain yang lebih ilmiah, kekuatan juga mesti dipergunakan."35) [cetak miring oleh Engels]

Wanita roh itu sangat menghargai kepercayaan itu, kepercayaan yang sama-sama baik dan ilmiah. Ia bahkan membuat penampilannya --yang tidak merupakan kejutan lagi bagi kita-- di rumah Tuan Crookes, bermain-main dengan anak-anak Tuan Crookes dan menceri-takan kepada mereka "anekdot-anekdot dari petualangannya di India," mengisahkan kepada Tuan Crookes suatu cerita mengenai "beberapa dari pengalaman getir dalam kehidupannya di masa lalu," memperkenankan Tuan Crookes memegang lengannya agar Tuan Crookes dapat meyakini akan kenyataan materialitasnya, memperkenankan Tuan Crookes memeriksa denyut-nadinya dan menghitung jumlah respirasi (pernafasan)-nya per menit, dan akhirnya membiarkan dirinya difoto dengan berdiri di samping Tuan Crookes.

"Sosok ini," kata Tuan Wallace, "setelah menampakkan diri, diraba, diajak berbicara, dan difoto, menghilang sama-sekali dari sebuah ruangan kecil yang tidak mempunyai jalan keluar lain kecuali sebuah kamar sebelah yang penuh dengan penonton" (hal.183)

-- yang bukan merupakan suatu kejadian yang luar biasa, karena para penonton itu cukup sopan dengan menunjukkan kepercayaan yang sama kuatnya pada Tuan Crookes--karena di rumahnyalah kejadian itu berlangsung--seperti besarnya kepercayaan Tuan Crookes itu pada roh itu.

Malangnya, "gejala-gejala yang sepenuhnya diotentikasi" itu tidak langsung dipercaya bahkan oleh para spiritualis. Di atas telah kita medlihat bagaimana Tuan Volckman yang sangat spiritualistik itu memperkenankan dirinya melakukan sergapan yang sangat material sifatnya. Dan sekarang seorang pendeta, seorang anggota dari komite "Asosiasi Nasional para Spiritualis Inggris," telah hadir juga pada sebuah séance bersama Nona Cook, dan ia tanpa kesulitan sedikitpun menegakkan kenyataan bahwa pintu ruangan yang dilewati roh itu ketika datang dan menghilang berkomunikasi dengan dunia luar lewat sebuah pintu kedua. Kelakuan Tuan Crookes yang juga hadir, memberikan "pukulan terakhir yang mematikan kepercayaanku bahwa mungkin ada 'sesuatu dalam' manifestasi-manifestasi penampilan itu." (Mystic London, oleh Rev.C.Maurice Davkies, London, Tinsley Brothers [310].) Dan di atas semua itu, di Amerika Serikat telah terbongkar bagaimana "Katie-Katie" menjadi "dimaterialisasikan". Sepasang suami-isteri bernama Holmes mengadakan séance-séance di Philadelphia, di mana juga muncul seorang "Katie" dan menerima hadiah-hadiah secara berlimpah-limpah dari para orang yang percaya. Namun, seorang skeptik menolak untuk berhenti sebelum ia dapat menjejaki Katie tersebut, yang, dalam pada itu, sudah pernah mogok karena kurangnya upah yang diterimanya; sang skeptik itu memergoki Katie tersebut di sebuah rumah-pondokan sebagai seorang wanita muda yang tak-disangsikan lagi berdaging dan bertulang, dan memiliki semua hadiah yang telah diberikan kepada roh tadi.

Sementara itu, Daratan Kontinental juga memiliki para pengelihat-roh yang ilmiah. Sebuah perkumpulan ilmiah di St. Petersburg--aku tidak mengetahui secara pasti apakah itu Universitas atau bahkan Akademi itu sendiri--memerintahkan pada Konsul Negara, Aksakov, dan ahli-kimia, Butlerov, untuk memeriksa dasar dari gejala-gejala spiritualistik itu, namun tampaknya tidak banyak yang dihasilkan oleh perintah itu.36) Di pihak lain--kalau kita mempercayai pengumuman-pengumuman yang disertai ramainya bunyi genderang-genderang dari para spiritualis--Jerman kini juga mengajukan orangnya dalam diri Profesor Zöllner di Leipzig.

Selama bertahun-tahun, sebagaimana sudah sangat diketahui, Profesor Zöllner telah bekerja keras mengenai "dimensi ke-empat" dari ruang, dan telah menemukan bahwa banyak hal yang tidak mungkin dalam suatu ruang berdimensi-tiga, adalah hal sepele dalam suatu ruang yang berdimensi-empat. Begitulah, dalam jenis ruang tersebut belakangan itu, sebuah bulatan metal yang tertutup dapat diputar-balik bagaikan sebuah sarung-tangan, tanpa membuat sebuah lubang padanya; demikian pula sebuah simpul dapat dibuat dengan seutas tali yang tidak berujung-berpangkal atau dengan seutas tali yang kedua ujungnya terikat, dan dua cincin terpisah dapat disaling-terkaitkan tanpa membuka salah-satu dari kedua cincin itu, dan masih banyak lagi hal-hal luar biasa seperti itu. Kini, menurut laporan-laporan terakhir yang bermegah-megah dari dunia roh, Profesor Zöllner telah berhubungan dengan seorang atau lebih medium agar dengan bantuan mereka dapat menentukan lebih banyak perincian mengenai lokalitas dimensi keempat itu. Hasilnya menurut kata ternyata sungguh mengejutkan. Setelah acara itu, lengan kursi yang menjadi sandaran lengannya sementara tangannya tidak pernah meninggalkan meja, didapati berbelit dengan lengannya, seutas tali yang kedua ujungnya terikat pada meja itu didapatkan terikat menjadi empat simpul, dan begitu seterusnya. Singkatnya, semua keajaiban dari dimensi keempat menurut katanya telah diperagakan oleh roh-roh itu dengan cara yang sangat mudah sekali. Haruslah diingat: relata refero, aku tidak dapat menjamin ketepatan buletin roh itu, dan kalau ada dikandung ketidak-cermatan, Tuan Zöllner semestinya berterima kasih karena aku telah memberikan kesempatan untuk melakukan pembetulan. Namun, jika buletin itu mereproduksi pengalaman-pengalaman Tuan Zöllner itu tanpa pemalsuan, maka itu jelas berarti suatu kurun baru dalam ilmu spiritualisme maupun dalam ilmu matematika. Roh-roh itu membuktikan keberadaan dimensi keempat, tepat sebagaimana dimensi keempat itu memastikan keberadaan roh-roh itu. Dan sekali hal ini ditegakkan, suatu bidang yang luar-biasa luasnya, yang seluruhnya baru, menjadi terbuka bagi ilmu-pengetahuan. Semua matematika dan ilmu-pengetahuan alam sebelumnya hanya akan merupakan sebuah sekolah kpersiapan bagi matematika dari dimensi keempat dan yang lebih tinggi lagi, dan bagi mekanika, fisika, kimia, dan fisiolo-gi roh-roh yang menghuni dimensi-dimensi lebih tinggi ini. Tidak-kah Tuan Crookes secara ilmiah telah menentukan berapa banyak bobot telah hilang dari meja-meja dan benda-benda prabotan lainnya dalam perlintasan barang-barang itu ke dalam dimensi keempat--demikianlah tentunya kita diizinkan menamakan semua itu--dan tidakkah Tuan Wallace menyatakan telah terbukti bahwa api di sana itu tidak menciderai/mencelakakan tubuh manusia? Dan kini kita bahkan mengetahui fisiologi tubuh-tubuh roh itu! Mereka itu bernafas, mereka mempunyai denyut nadi, jadi juga paru-paru, jantung, dan suatu perlengkapan peredaran, dan karena itu pula sekurang-kurang secara mengagumkan diperlengkapi seperti tubuh-tubuh kita dalam hal organ-organ tubuh lainnya. Karena bernafas menyaratkan karbohidrat-karbohidrat yang menjalani pembakaran di dalam paru-paru, dan karbohidrat-karbohidrat ini hanya dapat disuplai dari luar; maka perut, usus, dan pelengkap-pelengkapnya--dan apabila kita sudah memastikan sebanyak ini, yang selebihnya menyusullah tanpa sedikitpun kesulitan. Namun, keberadaan organ-organ seperti itu berarti kemungkinan menjadinya organ-organ itu mangsa penyakit, dan karenanya mungkin akan tiba ksaatnya bahwa Herr Virchow akan mesti menyusun suatu patologi selluler dari dunia roh itu. Dan, karena kebanyakan dari roh-roh ini adalah wanita-wanita muda yang sangat cakap, yang dalam hal apapun tidak dapat dibedakan dari wanita-wanita cantik duniawi, kecuali oleh kecantikan mereka yang adi-duniawi, tidak akan makan waktu yang sangat lama ksebelum mereka akan berhubungan dengan "kaum pria yang merasakan gairahnya cinta"37); dan karena, sebagaimana dibuktikan oleh Tuan Crookes dari pukulan denyut-nadi, "jantung wanita itu tidaklah absen," seleksi alamiah juga telah membukakan baginya prospek dari suatu dimensi keempat, suatu dimensi dimana ia tidak perlu takut akan dikacaukan (dicampur-adukkan) dengan Sosial-Demokrasi yang jahat.38)

Cukuplah. Di sini telah menjadi nyata-nyata terbukti mengenai jalan paling pasti dari ilmu-alam ke pada mistisisme. Yaitu bukannya teorisasi filsafat alam secara berlebih-lebihan, tetapi empirisisme yang paling dangkal yang dengan angkuh menolak dan mencurigai segala pikiran. Bukan keharusan a priori yang membuk-tikan keberadaan roh-roh, tetapi pantauan-pantauan empirikal dari tuan-tuan Wallace, Crookes, dan kawan-kawan. Jika kita mempercayai observasi-observasi spektrum-analisis Crookes, yang menghasilkan penemuan thallium metal, atau penemuan-penemuan zoologikal yang kaya oleh Wallace di Semenanjung Malaya, kita diminta untuk memberikan kepercayaan serupa pada pengalaman-pengalaman dan penemuan-penemuan spiritualistik dari kedua ilmuwan ini. Dan apabila kita menyatakan pendapat bahwa--ternyata--hanya sedikit sekali perbedaan antara keduanya itu, yaitu, apabila kita dapat memeriksa yang satu namun yang lainnya tidak, maka penglihat-penglihat roh itu menukas bahwa tidak demikianlah masalahnya, dan bahwa mereka bersedia memberikan kesempatan kepada kita untuk juga memeriksa (verifikasi) gejala-gejala roh itu.

Sebenarnyalah, dialektika tidak dapat dihina tanpa ada hukumannya untuk itu. Betapapun besarnya kebencian seseorang terhadap semua pikiran teoretikal, seseoranmg tidak dapat menempatkan dua fakta alam dalam hubungan satu sama lain, atau memahami keterkaitan yang terdapat di antara kedua fakta itu, tanpa pikiran teoretikal. Masalahnya ialah, apakah pemikiran orang itu benar atau tidak, dan membenci teori jelas jalan paling pasti untuk berpikir secara naturalistik, dan karenanya secara tidak tepat. Tetapi, menurut sebuah hukum dialektika yang tua dan sangat terkenal, pikiran secara tidak tepat, jika dilakukan hingga kesimpulan logikalnya, secara tidak terelakkan akan sampai pada kebalikan (yang berlawanan dengan) titik-keberangkatannya. Karena itu, kebencian emnpirikal terhadap dialektika dihukum dengan terbawanya beberapa dari kaum empirisis yang paling sadar ke dalam yang paling gersang dari semua ketahyulan, yaitu ke dalam spiritualisme modern.

Sama halnya dengan matematika. Para ahli matematika metafisikal biasa berkoar dengan kebanggaan luar-biasa mengenai mutlak tidak dapat disanggahnya hasil-hasil ilmu mereka. Tetapi hasil-hasil itu juga mencakup/meliputi kebesaran-kebesaran imajiner, yang dengan begitu memperoleh suatu realitas tertentu. Manakala seseorang telah menjadi terbiasa untuk menjulukkan sesuatu jenis realitas di luar pikiran kita kepada Ö -1, atau pada dimensi keempat, maka tidak menjadi soal yang sangat penting jika seseorang itu melangkah selangkah lebih jauh dan juga menerima dunia roh dari para medium. Seperti dikatakan Ketteler tentang Döllinger:

"Orang itu telah membela begitu banyak omong-kosong selama hidupnya, ia sebenarnya dapat sekalian menerima juga infalibilitas (ketidak-mungkinan-untuk-melakukan-kesalahan)!"39)

Sebenarnya, sekedar empirisisme saja tidak dapat menyanggah kaum spiritualis. Pertama-tama, gejala-gejala "lebih tinggi" selalu menampakkan diri hanya apabila "sang penyelidik" bersangkutan sudah begitu jauh dalam kerjanya sehingga ia kini hanya melihat yang dituju atau yang mau dilihatnya--sebagaimana dilukiskan oleh Tuan Crookes sendiri dengan kepandiran sepolosnya. Kedua, kaum spiritualis sama sekali tidak peduli bahwa beratus-ratus yang dikatakan sebagai fakta telah dibongkar sebagai penipuan dan losinan orang yang mengaku-ngaku sebagai medium telah ditelanjangi sebagai penipu-penipu biasa. Selama setiap yang dinamakan keajaiban/mukjijat satu-demi-satu belum dibuktikan ketidak-benarannya, mereka masih mempunyai cukup ruang untuk berjalan terus, sebagaimana memang dikatakan dengan cukup jelas oleh Wallace sehubungan dengan foto-foto roh yang dipalsukan itu. Keberadaan kepalsuan-kepalsuan itu membuktikan kemurnian yang murni-murni.

Maka empirisisme sendiri terpaksa menolak para penglihat-roh yang mengaku-ngaku itu, bukannya lewat eksperimen-eksperimen empirikal, melainkan dengan pertimbangan-pertimbangan teoretikal, dan terpaksa pula berkata, bersama Huxley:

Kebaikan satu-satunya yang dapat kulihat dalam demonstrasi kebenaran spiritualisme yalah membekali sebuah alasan tambahan terhadap bunuh-diri. Lebih baik hidup sebagai penyapu-perempatan-jalanan daripada mati dan disuruh mengoceh ngalor-ngidul tak-keruan oleh seorang medium yang ditanggap dengan satu guinea per séance!
»»  READMORE...

BENTUK-BENTUK DASAR DARI GERAK

Gerak dalam arti yang paling umum, difahami sebagai gaya keberadaan, atribut yang inheren, dari materi, mencakup/meliputi semua perubahan dan proses yang berlangsung dalam jagat raya, dari sekedar perubahan/pergantian tempat hingga sampai pada pikiran. Penyelidikan mengenai sifat gerak sudah dengan sendirinya mesti dimulai dari bentuk-bentuk gerak ini yang paling sederhana, paling rendah dan belajar menangkap semua itu sebelum ia dapat mencapai sesuatu sebagai penjelasan mengenai bentuk-bentuk yang lebih tinggi dan lebih rumit. Karenanya, dalam evolusi historikal ilmu-ilmu pengetahuan alam kita melihat bagaimana yang paling pertama-tama sekali dikembangkan adalah teori mengenai perubahan tempat yang paling sederhana, mekanika dari benda-benda langit dan massa-massa bumi; ia kemudian disusul oleh teori mengenai gerak molekular, fisika, dan segera kemudian, nyaris bersama-sama dan di beberapa tempat mendahuluinya, ilmu pengertahuan mengenai gerak atom-atom, kimia. Hanya setelah berbagai cabang pengetahuan mengenai bentuk-bentuk gerak yang menguasai alam tidak-hidup itu telah mencapai suatu derajat perkembangan yang tinggi, baru dapatlah penjelasan mengenai proses-proses gerak yang mewakili proses kehidupan itu ditangani dengan berhasil. Ini maju secara proporsional dengan kemajuan mengenai mekanika, fisika dan kimia. Akibatnya, sementara mekanika telah cukup lama secara sepadan mampu merujukkan efek-efek penungkil-penungkil tulang yang digerakkan oleh kontraksi otot dalam tubuh hewan pada hukum-hukum yang berlaku juga dalam alam tidak-hidup, substansiasi fisiko-kimiawi gejala-gejala lain dari kehidupan masih sangat berada pada awal perkembangannya. Karenanya di sini, dalam penyelidikan sifat gerak, kita terpaksa memasukkan bentuk-bentuk organik dari gerak itu,. Kita terpaksa membatasi diri kita--sesuai dengan keadaan ilmu-pengetahuan--pada bentuk-bentuk gerak dari alam tidak-hidup.

Semua gerak bertautan dengan sesuatu perubahan/pergantian/perpindahan tempat, apakah itu perubahan tempat benda-benda angkasa, massa-massa bumi, molekul-molekul, atom-atom, atau partikel-partikel ether. Semakin tinggi bentuk gerak itu, semakin kecil perubahan tempat itu. Ia sama sekali tdiak menguras habis sifat dari gerak bersangkutan, melainkan adalah tidak terpisahkan dari gerak itu. Ia, karenanya, mesti diselidiki sebelum kita menyelidiki apapun lainnya.

Keseluruhan alam yang terbuka bagi kita merupakan sebuah sistem, suatu totalitas yang saling-berkait dari benda-benda, dan dengan bgenda-benda kita mengartikan di sini semua keberadaan (eksistensi) material yang terentang dari bintang-bintang hingga atom-atom, bahkan sampai pada partikel-partikel ether, sejauh diakui keberadaan yang tersebut terakhir itu. Dalam kenyataan bahwa benda-benda ini saling-berkaitan sudah tercakup (pengertian) bahwa mereka bereaksi satu pada yang lainnya, dan justru reaksi timbal balik (satu sama lain) inilah yang menjadikan gerak. Sudah terbukti di sini bahwa materi itu tidak terbayangkan tanpa gerak. Dan apabila, sebagai tambahan, materi dihadapkan pada kita sebagai sesuatu yang tertentu, sama-sama tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan, maka berarti bahwa gerak juga tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan. Telah menjadi tidak mungkin untuk menolak kesimpulan ini segera setelah diakui bahwa jagat raya merupakan sebuah sistem, suatu antar-keterkaitan benda-benda. Dan sejak pengakuan ini dicapai oleh filsafat, lama sebelum ia diberlakukan secara efektif dalam ilmu-pengetahuan alam, dapatlah dimengerti mengapa filsafat, selama duaratus tahun sebelum ilmu-pengetahuan alam, menarik kesimpulan mengenai tidak-dapat-diciptakan dan tidak- dapat-dihancurkannya gerak. Bahkan bentuk yang dipakainya untuk melakukan ini masih lebih unggul daripada perumusan masa-kini dari ilmu-pengetahuan alam. Azas Descartes, bahwa jumlah (die Menge) gerak yang terdapat di dalam alam jagat selalu sama, hanya mengandung kelemahan-formal karena telah memakai suatu ungkapan terbatas bagi suatu kebesaran tak-terhingga. Sebaliknya, dua buah ungkapan mengenai hukum yang sama yang sekarang berlaku dalam ilmu-pengetahuan alam: hukum Helmholtz mengenai konservasi daya/tenaga, dan hukum yang lebih baru, yang lebih tepat, yaitu mengenai konservasi energi. Dari kedua-duanya ini, yang pertama, seperti akan kita lihat, mengatakan justru kebalikan dari yang lainnya, dan lebih dari itu, masing-masingnya hanya mengungkapkan satu sisi dari hubungan itu.

Manakala dua benda saling beraksi satu-sama-lain sehingga mengakibatkan suatu permindahan tempat dari yang satu atau pada kedua-duanya, maka perpindahan tempat ini hanya dapat berupa suatu pendekatan atau suatu pemisahan. Mereka saling tarik satu-sama-lain atau mereka saling menolak satu-sama-lain. Atau, sebagaimana mekanika menyatakannya, kekuatan-kekuatan yang beroperasi di antara mereka bersifat sentral, beraksi sepanjang garis yang menyatukan pusat-pusat mereka. Bahwa ini yang terjadi, bahwa demikian kenyataannya tanpa kecuali di seluruh alam jagat, betapapun rumitnya banyak gerakan mungkin tampaknya, dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang dengan sendirinya begitu. Akan tampak tidak-masuk-akal untuk berasumsi, manakala dua benda beraksi satu pada yang lainnya dan saling interaksi itu tidak dilawan oleh hambatan apapun atau pengaruh suatu benda ketiga, maka aksi ini mesti dipengaruhi secara lain daripada sepanjang jalan yang terpendek dan paling langsung, yaitu, sepanjang garis lurus yang menyatukan/menghubungkan pusat-pusat mereka.*) Lagi pula, sudah sangat diketahui, bahwa Helmholtz (Erhaltung der Kraft, Berlin 1847, Seksi I dan II) telah memberikan bukti matematikal bahwa aksi sentral dan tidak-dapat-diubahnya jumlah gerak (Bewegungsmenge)48) dikondisikan secara timbal-balik dan bahwa anggapan mengenai aksi-aksi lain kecuali yang sentral itu membawa pada hasil-hasil di mana gerak dapat atau diciptakan atau dihancurkan. Karena itulah bentuk dasar dari semua gerak adalah pendekatan dan pemisahan, kontraksi dan pemuaian--singkatnya, pertentangan-pertentangan polar(kutub) lama dari tarikan dan tolakan.

Yang secara istimewa mesti diperhatikan ialah, bahwa di sini, tarikan dan tolakan tidak dipandang sebagai "kekuatan-kekuatan" tetapi sebagai bentuk-bentuk sederhana dari gerak, tepat sebagaimana Kant sudah memahami materi sebagai kesatuan tarikan dan tolakan. Yang mesti difahami dengan "kekuatan-kekuatan" akan ditunjukkan kelak pada waktunya.

Semua gerak terdiri atas saling-pengaruh tarikan dan tolakan. Namun, gerak hanya mungkin pabila setiap tarikan individual dikompensasi oleh tolakan yang bersesuaian di sesuatu tempat lainnya. Jika tidak begitu maka pada waktunya satu sisi akan menjadi lebih kuasa atas yang lainnya dan gerak itu akhirnya akan berhenti. Karenanya, semua tarikan dan semua tolakan dalam jagat raya mesti saling mengimbangi satu sama lain. Demikianlah hukum tidak-dapat-dihancurkan dan tidak-dapat-diciptakannya gerak terungkap dalam bentuk bahwa setiap gerak tarikan dalam jagat raya mesti mempunyai sebagai komplemennya suatu gerak tolakan ekuivalen (kesetaraan) dan vice versa; atau, sebagaimana filsafat kuno--lama sebelum perumusan ilmiah-alam mengenai hukum konservasi tenaga atau energi--menyatakannya: jumlah dari semua tarikan dalam alam jagat raya adalah sama dengan jumlah semua tolakan.

Namun, di sini tampaknya masih terdapat dua kemungkinan bagi semua gerak untuk berhenti pada sesuatu waktu, baik itu dikarenakan oleh tolakan dan tarikan yang akhirnya saling membatalkan satu sama lain dalam kenyataan aktual, ataupun dengan total tolakan yang akhirnya menguasai suatu bagian materi dan total tarikan menguasai bagian lainnya. Bagi konsepsi dialektikal, kemungkinan-kemungkinan ini sejak awal dimustahilkan. Sejauh ini, dialektika telah membuktikan dari hasil-hasil pengalaman kita tentang alam, bahwa semua oposisi kutub pada umumnya ditentukan oleh aksi timbal-balik kedua kutub yang berlawanan, bahwa pemisahan dan pertentangan dari kutub-kutub ini hanya ada di dalam saling keterkaitan dan persatuan mereka, dan, sebaliknya, bahwa kesatuan mereka hanya ada di dalam pemisahan mereka dan saling-keterkaitan mereka hanya dalam pertentangan mereka. Setelah ini ditandaskan, tidak ada masalah suatu pembatalan final dari tolakan dan tarikan, atau mengenai suatu pembagian final di antara satu bentuk gerak dalam separoh materi dan bentuk gerak lainnya dalam separoh materi lainnya, karenanya tidak ada masalah saling-penyusupan (penetrasi)49) atau pemisahan mutlak dari kedua kutub itu. Itu akan sama saja dengan menuntut, dalam kasus pertama, bahwa kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet mesti saling-membatalkan atau, dalam kasus kedua, bahwa membagi sebuah magnet di tengah-tengah antara kedua kutub itu di satu sisi mesti menghasilkan suatu paroh utara tanpa suatu kutub selatan, dan di sisi lainnya suatu paroh selatan tanpa suatu kutub utara. Sekalipun--namun--kemustahilan asumsi-asumsi seperti itu segera nyata dari sifat dialektikal oposisi-oposisi kutub, bagaimanapun, berkat gaya pikiran metafisikal dari para ilmuwan alamyang berkuasa, asumsi kedua setidak-tidaknya memainkan suatu bagian tertentu dalam teori fisikal. Hal ini akan dibicarakan pada tempatnya kelak.

Bagaimanakah gerak menghadirkan dirinya dalam interaksi tarikan dan tolakan? Paling tepat hal ini diteliti dalam bentuk-bentuk gerak masing-masing sendiri. Pada akhirnya, aspek umum dari materi akan memperlihatkan dirinya sendiri.

Mari kita ambil gerak sebuah planet di sekitar benda (badan/kumpulan) sentralnya sendiri. Astronomi sekolahan biasa mengikuti Newton dalam menjelaskan elips yang dilukiskan sebagai hasil aksi bersama dari dua kekuatan, tarikan benda sentral dan suatu kekuatan tanjensial (tangential = yang bersinggungan) yang memacu planet itu di sepanjang kenormalan pada arah tarikan ini. Dengan demikian ia mengambil, di samping bentuk gerak yang berarahkan sentral, juga suatu arah lain dari gerak, atau yang dinamakan "kekuatan," perpendikular (garis tegak-lurus) pada garis yang menghubungkan pusat-pusat itu. Dengan begita ia berlawanan/bertentangan dengan hukum dasar tersebut di atas, yang menyatakan bahwa semua gerak di dalam alam semesta kita hanya dapat terjadi di sepanjang garis yang menghubungkan pusat-pusat benda-benda yang satu sama lain beraksi secara timbal balik, atau, seperti juga dikatakan, yang hanya disebabkan oleh "kekuatan-kekuatan" yang beraksi secara sentral. Dengan begitu ia juga memperkenalkan ke dalam teori itu suatu unsur gerak yang, seperti juga telah kita saksikan, mau-tidak-mau membawa pada penciptaan dan penghancuran gerak, dan karenanya mengandaikan suatu pencipta. Yang mesti dilakukan, karenanya, yalah mengurangi kekuatan tanjensial yang misterius ini menjadi suatu bentuk gerak yang beraksi secara sentral, dan inilah yang dicapai/dilaksanakan oleh teori kosmogoni Kant-Laplace. Sebagaimana sudah sangat diketahui, menurut konsepsi ini seluruh sistem matahari lahir dari suatu massa serba-gas yang berputar, yang sangat lemah melalui/lewat kontraksi berangsur-angsur. Gerak rotasional (berputar) jelas paling kuat di khatulistiwa (equator) sfera serba-gas ini, dan cincin-cincin serba-gas individual memisahkan diri dari massa itu dan berkerumun bersama (jadi-satu) menjadi planet-planet, planetoid-planetoid, dsb., yang berputar di sekeliling ben da sentral dalam arah rotasi (perputaran) aslinya. Perputaran ini sendiri lazimnya diterangkan dari gerak partikel-partikel serba-gas itu sendiri-sendiri. Gerak ini terjadi ke semua arah, tetapi akhirnya suatu ekses dalam satu arah tertentu menjadikannya nyata dan dengan begitu menyebabkan gerak berputar itu, yang pasti menjadi semakin kuat dan semakin kuat dengan kontraksi progresif dari sfera serba-gas itu. Tetapi, hipotesis apapun yang dibuat mengenai asal-usul perputaran (rotasi) itu, kesemuanya menghapuskan kekuatan tanjensial, meleburnya dalam suatu bentuk manifestasi khusus dari gerak yang beraksi secara sentral. Apabila satu unsur gerak planeter, yaitu yang langsung sentral, diwakili oleh gravitasi, tarikan antara planet dan benda sentral itu, maka unsur yang lain, yang tanjensial, tampak sebagai sebuah relik, dalam suatu bentuk derivatif atau sudah berubah, dari tolakan asli partikel-partikel individual dari sfera serba-gas itu. Dengan demikian proses kehidupan suartu sistem matahari menghadirkan dirinya sebagai saling-pengaruh-mempengaruhinya tarikan dan tolakan, di mana tarikan berangsur-angsur menjadi semakin unggul-mengungguli disebabkan tolakan yang dipancarkan (radiasi) ke ruang angkasa dalam bentuk panas dan dengan demikian semakin menghilang (terhilang) dari sistem itu.

Selintas-kilas orang melihat bahwa bentuk gerak yang di sini difahami sebagai tolakan adalah sama dengan yang oleh ilmu-fisika modern diistilahkan/disebut "energi." Dengan kontraksi sistem itu dan akibat menjauhnya benda-benda individual yang menjadi pembentuknya dewasa ini, sistem itu telajh kehilangan "energi," dan justru kehilangan ini, menurut perhitungan Helmholtz yang terkenal, sudah mencapai 453/454 (empatratuslimapuluhtiga per empatratuslimapuluhempat) dari jumlah total gerak (Bewegungsmenge) yang aslinya terdapat dalam bentuk tolakan.

Mari kita sekarang mengambil suatu massa dalam bentuk sebuah benda di atas bumi kita sendiri. Ia dikaitkan dengan bumi oleh gravitasi, sebagaimana bumi pada gilirannya terkait pada matahari; namun, tidak seperti bumi, ia tidak berkemampuan akan suatu gerak planeter yang bebas. Ia hanya dapat digerakkan dengan/oleh suatu impuls dari luar, dan bahkan dengan begitu, sesegera impuls itu terhenti, geraknya segera terhenti pula, baik itu dikarenakan oleh gravitas saja ataupun oleh yang tersebut belakangan itu secara terpadu dengan perlawanan medium di mana ia bergerak. Perlawanan ini sebenarnya juga suatu efek dari gravitas, tanpa itu bumi, di atas permukaannya, tidak akan mempunyai medium perlawanan apapun, tidak akan mempunyai atmosfer apapun. Karenanya, dalam gerak yang semurninya mekanikal di atas permukaan bumi kita menghadapi suatu situasi di mana gravitasi, tarikan, secara menentukan berkuasa, di mana, oleh sebab itu, produksi gerak memperlihatkan kedua tahap: pertama gravitas yang beraksi secara berlawanan dan kemudian memperkenankan gravitas itu beraksi--singkatnya, naik dan jatuh.

Maka, kita mendapati lagi aksi timbal-balik antara tarikan di satu pihak dan suatu bentuk gerak yang terjadi dalam arah berlawanan dengannya, karenanya suatu bentuk gerak tolakan, di lain pihak. Tetapi, di dalam lingkup mekanika yang semurninya terestrial [bumi] (yang berurusan dengan massa-massa keadaan-keadaan agregasi dan kohesi tertentu yang diliputinya sebagai tidak-dapat-berubah) bentuk gerak tolakan ini tidak terjadi di dalam alam. Kondisi-kondisi fisikal dan kimiawi yang dengannya segumpal batu-karang menjadi terpisah dari suatu puncak-gunung, atau memungkjinkan jatuhnya air, berada di luar lingkup aksinya. Karenanya, dalam mekanika yang semurninya terestial, gerak tolakan, gerak naik mesti diproduksi secara buatan; dengan tenaga manusia, kekuatan hewani, daya air atau uap, dsb. Dan keadaan ini, keharusan untuk memerangi tarikan alamiah secara buatan, menyebabkan para ahli mekanika menganut pandangan bahwa tarikan, gravitasi, atau--sebagaimana mereka katakan= kekuatan gravitas, merupakan bentuk gerak dalam alam yang paling penting, bahkan yang paling dasar.

Manakala, misalnya, suatu beban (bobot) diangkat dan menghubungkan (mengomunikasikan) gerak pada benda-benda lain dengan langsung atau tak-langsung jatuh, maka menurut pandangan mekanika yang biasa, ia bukanlah pengangkatan beban itu yang mengomunikasikan gerak ini, melainkan adalah gaya gravitas yang melakukannya. Begitulah Helmholtz, misalnya, yang membuat

"kekuatan yang adalah yang paling sederhana dan yang paling kita kenal, yaitu gravitas, yang bertindak sebagai daya pendorongnya.... misalnya dalam lonceng-lonceng yang digerakkan oleh suatu beban. Beban itu.....tidak dapat menuruti tarikan gravitas tanpa membuat seluruh kerja-lonceng itu bergerak." Tetapi ia tidak dapat membuat kerja-lonceng itu bergerak tanpa sendiri turun dan itu terus turun sampai rantai yang padanya ia bergantung sepenuhnya terentang habis: "Lalu lonceng itu akan berhenti, karena kapasitas operatif dari beban itu telah habis untuk sementara waktu. Bobotnya bukannya hilang atau berkurang, ia tetap tertarik hingga batas yang sama oleh bumi, tetapi kapasitas bobot ini untuk menghasilkan gerakan-gerakan telah hilang.... Namun, kita dapat, memutar konceng itu dengan tenaga lengan manusia, sehingga bobot itu kembali dinaikkan. Segera setelah ini terjadi, ia memperoleh kembali kapasitas operatifnya yang semula/sebelumnya dan kembali dapat menggerakkan lonceng itu." (Helmholtz, Populäre Vorträge, II, hal. 144-45.)

Maka itu, menurut Holmholtz, bukanlah komunikasi gerak secara aktif, dinaikkannya bobot/beban, yang membuat lonceng itu bergerak, melainkan beratnya bobot pasif itu, sekalipun berat yang sama ini hanya ditarik dari kepasivannya dengan mengangkatnya, dan sekali lagi balik pada kepasivan setelah rantai beban itu terentang habis. Maka, apabila menurut konsepsi modern, seperti yang sudah kita lihat di atas, energi hanyalah sebuah ungkapan lain buat tolakan, di sini, di dalam konsepsi Helmholtz yang lebih tua, kekuatan tampil sebagai ungkapan lain bagi lawan tolakan, bagi tarikan (atraksi) Untuk sementara kita catat saja hal ini.

Namun, apabila proses mekanika terestial telah sampai pada akhirnya, manakala massa berat itu pertama-tama sekali telah diangkat dan kemudian jatuh kembali melalui ketinggian yang sama, apakah yang terjadi dengan gerak yang menjadikan proses ini? Bagi mekanika murni, ia telah lenyap. Tetapi kita mengetahui sekarang, bahwa ia sama sekali tidaklah dihancurkan. Hingga batas tertentu ia telah diubah menjadi getaran-getaran (vibrasi) udara dari gelombang-gelombang suara, hingga suatu batas yang lebih besar lagi, menjadi panas--yang sebagian telah dikomunikasikan pada atmosfer yang berlawan, sebagian lagi pada benda jatuh itu sendiri, dan sebagian lagi akhirnya pada lantai di atas mana beban itu terhenti. Bobot lonceng itu juga secara berangsur-angsur telah melerpaskan geraknya dalam bentuk panas gesekan pada berbagai roda pendorong/pemacu dari kerja-lonceng itu. Namun, sekalipun lazimnya diungkapkan secara demikian, bukanlah gerak jatuh itu, yaitu tarikan itu, yang telah beralih menjadi panas, dan dengan begitu menjadi suatu bentuk tolakan. Sebaliknya, sebagaimana dengan tepat dinyatakan oleh Helmholtz, tarikan itu, beratnya itu, tetap sebagaimana itu sebelumnya dan, dikatakan secara secermatnya, bahkan menjadi lebih besar. Lebih tepatnya, adalah tolakan itu yang dikomunikasikan pada benda yang terangkat itu dengan mengangkatnya, yang dihancurkan secara mekanikal dengan jatuh dan muncul kembali sebagai panas. Tolakan massa-massa diubah menjadi tolakan molekular.

Panas, sebagaimana sudah dinyatakan, adalah suatu bentuk tolakan. Ia menggerakkan molekul-molekul benda-benda padat beroskilasi (bergoyang-goyang), dengan demikian melepaskan kaitan-kaitan molekul-molekul itu sendiri-sendiri sehingga akhirnya berlangsunglah peralihan ke keadaan cair itu. Dalam keadaan cair itu juga, dengan terus ditambahkannya panas, ia meningkatkan gerak molekul-molekul itu hingga tercapailah suatu derajat di mana molekul-molekul itu sepenuhnya memisahkan diri dari massa itu dan, pada kecepatan tertentu yang ditentukan bagi setiap molekul oleh susunan kimiawinya, mereka bergerak menjauh secara sendiri-sendiri dalam keadaan bebas. Dengan penambahan panas lebih lanjut, kecepatan itu semakin ditingkatkan, dan dengan begitu molekul-molekul itu semakin saling-tolak-menolak satu sama lainnya.

Namun panas itu suatu bentuk dari apa yang dinamakan "energi"; di sini lagi-lagi ternyata bahwa yang tersebut belakangan itu adalah identikal dengan tolakan.

Dalam gejala-gejala listrik statik dan magnetisme, kita dapatkan suatu distribusi polar dari tarikan dan tolakan. Apapun hipotesis yang diterima mengenai modus operandi kedua bentuk ini, berdasarkan fakta tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tarikan dan tolakan, sejauh-jauh mereka diproduksi/dihasilkan oleh listrik statik atau magnetisme dan mampu untuk berkembang tanpa halangan, mereka sepenuhnya saling mengompensasi (kompensasi) satu sama lain, sebagaimana nyata tidak-bisa-tidak disebabkan oleh sifat distribusi polar itu sendiri. Dua kutub yang kegiatan-kegiatannya tidak sepenuhnya saling mengompensasi satu sama lain memang bukan kutub-kutub, dan sejauh ini belum pernah dijumpai dalam alam. Untuk sementara kita tidak akan membicarakan galvanisme, karena dalam hal ini, prosesnya ditentukan oleh reaksi-reaksi kimiawi, yang menjadikannya semakin rumit. Karenanya, lebih baik kita meneliti proses-proses kimiawi dari gerak itu.

Manakala dua bagian berat hidrogen berpadu dengan 15,96 bagian berat oksigen untuk membentuk uap air, suatu jumlah panas sebanyak 68,924 satuan-panas dikembangkan selama proses itu. Sebaliknya, apabila 17,96 bagian berat uap air didekomposisikan menjadi dua bagian berat hidrogen dan 15,96 bagian berat oksigen, hal ini hanya mungkin dengan syarat bahwa uap air itu telah mengomunikasikan suatu jumlah gerak yang setara dengan 68,924 satuan-panas--baik itu dalam bentuk panas itu sendiri atau dalam bentuk gerak elektrikal. Dalam mayoritas terbesar kasus, gerak dilepaskan/terjadi pada perpaduan dan mesti disuplai pada dekomposisi. Juga di sini, lazimnya, tolakan merupakan segi aktif dari proses itu, yang lebih dibekali dengan gerak atau memerlukan suatu tambahan gerak, sedangkan tarikan merupakan segi pasif yang menghasilkan suatu surplus gerak dan melepaskan gerakan. Berdasar hal ini, teori modern juga menyatakan bahwa, dalam keseluruhannya, energi itu dibebaskan pada waktu (saat) perpaduan unsur- unsur dan menjadi tergabung pada saat dekomposisi. Di sini, karena itu, energi lagi-lagi berarti tolakan. Dan Helmholtz kembali menyatakan:

"Kekuatan ini (afinitas kimiawi) dapat difahami sebagai suatu kekuatan tarikan.... Kekuatan tarikan ini di antara atom-atom karbon dan oksigen melaksanakan pekerjaan sangat sama banyaknya seperti (dengan) yang dikerahkan pada suatu berat yang diangkat oleh bumi dalam bentuk gravitasi... Manakala atom-atom karbon dan oksigen saling menyerbu satu sama lain dan berpadu untuk membentuk asam karbonik, maka partikel-partikel asam karbonik yang baru terbentuk itu mesti berada dalam gerak molekular yang dahsyat, yaitu, dalam gerak panas.... Apabila kemudian mereka melepaskan panas mereka pada lingkungan, kita masih mendapati dalam asam karbonik itu semua karbon, semua oksigen, dan tambahan lagi afinitas dari keduanya terus berada/hidup dengan sama kuat-perkasanya seperti sebelumnya. Tetapi, afinitas ini kini menyatakan dirinya semata-mata dalam kenyataan bahwa atom-atom karbon dan oksigen lekat-rapat satu-sama-lain, dan tidak memperkenankan terpisahnya mereka kembali." (Helmholtz, ibid., hal. 169.)

Helmholtz berkukuh bahwa dalam ilmu kimia maupun dalam ilmu mekanika, kekuatan hanya ada dalam tarikan, dan karena itu menjadi tepat berlawanan dengan yang oleh para ahli fisika lainnya disebut energi dan yang identikal dengan tolakan.

Maka, kini tidak hanya terdapat dua bentuk dari dari tarikan dan tolakan yang sederhana, melainkan serangkaian/sederetan penuh anak-anak bentuk di mana pemutaran dan pelepasan proses gerak universal berlangsung di dalam oposisi tarikan dan tolakan. Namun, sama-sekali tidaklah hanya dalam pikiran kita beraneka-ragam bentuk penampilan ini difahami dalam ketunggalan ungkapan gerak. Sebaliknya, semuanya itu membuktikan diri dalam aksi bahwa mereka adalah bentuk-bentuk dari gerak yang satu dan sama dengan cara mereka beralih yang satu menjadi yang lainnya dalam keadaan-keadaan tertentu. Gerak massa-massa secara mekanikal beralih menjadi panas, menjadi listrik, menjadi magnetisme; panas dan listrik beralih menjadi dekomposisi kimiawi; kombinasi kimiawi pada gilirannya lagi melahirkan panas dan listrik dan, lewat yang tersebut terakhir, magnetisme; dan akhirnya, panas dan listrik kembali menghasilkan lebih banyak gerak massa-massa secara mekanikal. Selanjutnya, perubahan-perubahan ini terjadi sedemikian rupa sehingga sejumlah bentuk gerak tertentu selalu mempunyai suatu jumlah tertentu yang tepat-sama dari bentuk gerak yang lain. Selanjutnya, tidaklah peduli bentuk gerak yang mana menentukan satuan untuk mengukur jumlah gerak itu, apakah itu untuk mengukur gerak massa, panas, yang dinamakan kekuatan elektro-motive, atau gerak yang menjalani transformasi dalam proses-proses kimiawi.

Di sini kita bersandar pada teori "konservasi energi" yang ditegakkan oleh J.R. Mayer**) pada tahun 1842 dan kemudian disusun secara internasional dengan keberhasilan yang begitu cemerlang, dan kini kita mesti meneliti konsep-konsep fundamental yang dipakai dewasa ini oleh teori ini. Ini adalah konsep-konsep mengenai "kekuatan/daya," atau "energi," dan "kerja".

Telah ditunjukkan di atas, bahwa menurut pandangan modern, yang kini umumnya diterima, energi adalah istilah yang dipakai untuk tolakan, sedangkan Helmholtz lebih banyak memakai kata daya untuk menyatakan tarikan. Orang dapat menganggap ini suatu perbedaan formal yang tidak penting, sejauh tarikan dan tolakan itu saling mengompensasi satu sama lain di jagat raya, dan sesuai dengan itu persoalan segi mana dari hubungan itu yang dianggap sebagai positif dan yang mana sebagai yang negatif akan tampak sebagai hal yang tidak perlu dipersoalkan, sebagaimana itu sendiri tidaklah penting manakala absisae (abscissae) dihitung ke kanan atau ke kiri dari sebuah titik dalam suatu garis tertentu. Namun, hal ini sama sekali tidaklah demikian mutlaknya.

Karena, di sini kita tidak mempersoalkan--pertama-tama--alam semesta, tetapi gejala-gejala yang terjadi di atas bumi dan dikondisikan oleh tertentunya posisi bumi secara pasti di dalam sistem matahari (tata-surya), dan posisi sistem matahari dalam alam semesta. Namun, setiap saat, sistem matahari kita mengeluarkan kuantitas-kuantitas gerak secara luar-biasa besarnya ke ruang angkasa, dan--lagi pula--gerak dari suatu kualitas yang sangat tertentu, yaitu, panas matahari, yaitu tolakan. Tetapi bumi kita sendiri memungkinkan keberadaan kehidupan di atasnya hanya dikarenakan panas matahari, dan pada akhirnya, bumi pada gilirannya memancarkan panas matahari yang diterimanya ke ruang angkasa, setelah ia mengubah sebagaian dari panas ini menjadi bentuk-bentuk gerak yang lain. Karenanya, di dalam sistem matahari dan di atas segala-galanya di atas bumi, tarikan sudah sangat mengungguli (mengatasi) tolakan. Tanpa gerak tolakan yang dipancarkan pada kita dari matahari, semua gerak di atas bumi akan terhenti. Seandainya esok matahari itu menjadi dingin, maka tarikan di atas bumi akan tetap, dengan semua keadaan lainnya tetap sama, sebagaimana ia adanya sekarang. Seperti di muka, sebuah batu yang beratnya 100 kilogram, di manapun batu itu ditempatkan, akan tetap 100 kilogram beratnya. Tetapi gerak itu, baik yang dari massa-massa dan dari molekul-molekul dan atom-atom, akan sampai/menjadi yang akan kita anggap sebagai suatu perhentian. Maka dari itu, jelaslah bahwa bagi proses-proses yang terjadi dewasa ini di atas bumi, sama sekali bukan masalah yang tak-perlu-dihiraukan apakah tarikan atau tolakan difahami sebagai segi aktif dari gerak, dan karenanya sebagai "daya," atau "energi". Sebaliknya, dewasa ini di atas bumi, tarikan sudah menjadi pasif sepenuhnya dikarenakan kemantapannya yang lebih menentukan di atas tolakan; kita berhutang semua gerak aktif pada suplai tolakan dari matahari. Karena itu, aliran modern--bahkan apabila masih tetap tidak jelas mengenai sifat hubungan gerak--betapa-pun, dalam hal kenyataan dan bagi proses-proses terestrial, bahkan bagi seluruh sistem mathari, secara mutlak benar dalam memahami energi sebagai tolakan.

Istilah "energi" sama sekali tidak secara tepat mengungkapkan seluruh hubungan gerak, karena ia hanya mencakup satu aspek saja, yaitu aksinya tetapi penciptaannya tidak. Ia masih membuat seakan-akan "energi" itu sesuatu yang di luar (eksternal) materi, sesuatu yang ditanamkan ke dalamnya. Tetapi dalam segala keadaan ia lebih disukai/dipilih daripada ungkapan "daya".

Sebagaimana umumnya diakui (dari Hegel hingga Helmholtz), pengertian daya diderivasi dari kegiatan organisme manusia di dalam lingkungannya. Kita berbicara tentang kekuatan otot, mengenai daya angkat lengan, mengenai daya loncat kaki, mengenai daya cerna perut dan sistem intestinal, mengenai daya sensor syaraf-syaraf, mengenai daya secretori kelenjar-kelenjar, dsb. Dengan kata-kata lain, demi pengamanan karena mesti memberikan sebab sebenarnya sesuatu perubahan yang ditimbulkan oleh suatu fungsi organisme kita, kita menggantikannya dengan sebuah sebab karangan, sesuatu yang disebut daya yang bersesuaian dengan perubah-an itu. Kemudian kita alihkan metode yang memudahkan ini kepada dunia eksternal juga, dan dengan begitu membuat penemuan kekuatan-kekutan/daya-daya sebanyaki adanya beraneka-ragam gejala.

Pada masa Hegel, ilmu-pengetahuan alam (barangkali dengan pengecualian ilmu-mekanika langit dan bumi) masih berada dalam keadaan pandir (naive), dan Hegel dengan tepat sekali menyerang cara penunjukan (denotasi) daya-daya yang berlaku (pasase yang akan dikutib).51) Seperti itu pula dalam sebuah pasase lain:

"Adalah lebih baik (mengatakan) bahwa sebuah magnet mempunyai suatu roh" (sebagaimana Thales menyatakannya) "daripada bahwa ia mempunyai suatu daya tarikan; daya adalah semacam sifat yang, terpisahkan dari materi dikemukakan sebagai sebuah predikat --sedangkan roh, sebaliknya, adalah gerak ini sendiri, identikal dengan sifatnya materi." (Geschichte der Philosophie, I, hal. 208.)

Dewasa ini kita lagi menggampangkan persoalan daya-daya. Mari kita dengar Helmholtz:

"Apabila kita sepenuhnya mengenal sebuah hukum alam, kita juga mesti menuntut bahwa hukum itu mesti beroperasi tanpa pengecualian... Dengan demikian hukum berhadapan dengan kita sebagai suatu kekuatan objektif, dan bersesuaian dengan itu kita menamakannya suatu daya. Misalnya, kita mengobjektivikasi hukum refraksi cahaya sebagai suatu daya refraktif dari substansi-substansi transparan, hukum afinitas kimiawi sebagai suatu daya afinitas dari berbagai substansi satu-sama-lain. Begitulah kita berbicara mengenai daya elektrik dari kontak metal-metal, mengenai daya adhesi, daya kapilari, dan begitu seterusnya. Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit.... Daya hanyalah hukum aksi yang diobjektivikasi.... Ide abstrak mengenai daya yang kita perkenalkan/ajukan hanya menambahkan bahwa kita tidak secara sewenang-swenang membuat penemuan hukum ini, melainkan bahwa ia adalah sebuah hukum gejala-gejala yang merupakan keharusan. Karena itu tuntutan kita untuk memahami gejala-gejala alam, yaitu, menemukan hukum-hukumnya, mengambil suatu bentuk ungkapan yang lain, yaitu, bahwa kita harus menemukan daya-daya yang menjadi sebab-sebab dari gejala-gejala itu." (Loc. cit., hal.189- 91. Ceramah Innsbruck tahun 1869.)

Pertama-tama, jelaslah suatu cara "objektivikasi" yang ganjil apabila pengertian mengenai daya yang semurninya subjektif itu dimasukkan ke dalam suatu hukum alam yang sudah ditegakkan sebagai bebas dari subjektivitas kita dan oleh karenanya sepenuhnya bersifat objektif. Paling-bantar seorang Hegelian-tua dari tipe yang paling tegar dapat memperkenankan hal seperti itu bagi dirinya, namun tidak bagi seorang Neo-Kantian seperti Helmholtz. Hukum itu, sekali ia telah dimantapkan, maupun objektivitasnya ataupun objektivitas aksinya, sedikitpun tidak memerlukan objektivitas baru dari/oleh kita dengan penginterpolasian suatu daya ke dalamnya; yang ditambahkan adalah anggapan subjektif kita bahwa ia bertindak berkat suatu daya yang sejauh ini sama sekali tidak dikenal/diketahui. Namun makna rahasia dari interpolasi ini segera tampak ketika Helmholtz memberikan contoh-contoh pada kita: refraksi cahaya, afinitas kimiawi, listrik kontak, adhesi, kapilaritas, dan mengangkat hukum-hukum yang menguasai gejala- gejala ini pada peringkat keningratan "objektif" sebagai daya-daya. "Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit." Dan justru di sinilah "objektivikasi" itu, yang lebih bersifat subjektivikasi, memperoleh maknanya; tidak karena kita telah menjadi sepenuhnya mengenal hukum itu, melainkan justru karena tidak demikianlah kenyataannya. Justru karena kita belum jelas mengenai "kondisi-kondisi yang rada-rada rumit" dari gejala-gejala ini, kita sering mencari pelarian kita dalam kata daya itu. Dengan begitu kita tidak menyatakan pengetahuan kita, melainkan (justru) kekurangan/ketiadaan pengetahuan kita mengenai sifat hukum itu dan gaya aksinya. Dalam pengertian ini, sebagai suatu ungkapan singkat bagi suatu pertautan sambil-lalu yang masih belum dijelaskan, sebagai suatu ungkapan asal-jadi, ia mungkin lolos ke dalam pemakaian dewasa ini. Apapun saja daripada yang dari kebatilan. Dengan hak yang sama absahnya sebagaimana Helmholtz menjelaskan gejala-gejala fisikal dari apa yang dinamakan daya refraktif, daya kontak elektrikal, dsb., para skolastik abad-pertengahan menjelaskan perubahan-perubahan temperatur (suhu) melalui/dengan suatu vis calorifica dan vis frigifaciens dan dengan demikian mengamankan/menyelamatkan diri mereka dari semua penelitian lebih lanjut mengenai gejala-gejala panas.

Dan bahkan dalam arti ini ia sungguh malang, karena ia mengungkapkan segala sesuatu dengan cara yang berat-sebelah. Semua proses alam adalah bersegi-dua, mereka didasarkan pada hubungan setidak-tidaknya dua bagian operatif, aksi dan reaksi. Namun, pengertian daya, karena asal-usulnya dari aksi organisme manusia atas dunia eksternal, dan selanjutnya dari mekanika bumi, berarti bahwa hanya satu bagian yang aktif, operatir, sedangkan bagian lainnya adalah pasif, nerimo; karenanya ia menetapkan suatu perluasan perbedaan yang belum dapat diperagakan di antara jenis-jenis kelamin pada objek-objek mati (tidak hidup). Reaksi dari bagian kedua, yang padanya daya itu bekerja, paling-paling tampil sebagai suatu reaksi pasif, sebagai suatu tentangan. Nah, gaya konsepsi ini diperkenankan dalam sejumlah bidang, bahkan di luar mekanika murni, yaitu, di mana ia menjadi masalah pengalihan gerak secara sederhana dan penghitungan kuantitatifnya. Tetapi, dalam proses-proses fisikal yang lebih rumit, ia tidak mencukupi, sebagaimana dibuktikan oleh contoh-contoh Helmholtz sendiri. Daya refraktif itu sama kuatnya terletak dalam cahaya itu sendiri seperti dalam benda-benda transparan itu. Dalam hal adhesi dan kapilaritas, jelaslah bahwa "daya" itu sama kuatnya berada dalam permukaan yang padat seperti dalam permukaan yang cair. Bagaimanapun, dalam listrik kontak, halnya sudah jelas, yaitu, bahwa kedua metal menyumbang padanya, dan "afinitas kimiawi" juga berada--kalaupun di manapun--dalam kedua bagian yang memasuki perpaduan/penggabungan. Tetapi suatu daya yang terdiri atas dua daya yang terpisah, suatu aksi yang tidak menimbulkan reaksinya, tetapi yang mencakup dan menanggung ini di dalamnya sendiri, bukanlah daya dalam pengertian mekanika terestrial, satu-satunya ilmu-pengetahuan di mana seseorang sungguh-sungguh mengetahui apa yang dimaksudkan dengan suatu daya. Karena kondisi-kondisi pokok dari mekanika terestrial adalah, pertama-tama, penolakan untuk meneliti sebab-sebab dari impuls itu, yaitiu, sifat dari daya tertentu, dan, kedua, pandangan mengenai kebersegi-satunya daya, karena di mana-mana ia ditentang oleh suatu daya gravitasional yang identikal, sedemikian rupa sehingga dibandingkan dengan jarak jatuh terestrial yang manapun, maka jarak-tempuh (radius) bumi = "tak-terhingga".

Tetapi, mari kita lebih lanjut melihat bagaimana Helmholtz "mengobjektivikasi daya-dayanya" ke dalam hukum-hukum alam.

Dalam sebuah ceramah di tahun 1854 (loc. cit., hal.119)52) ia memeriksa simpanan daya kerja yang aslinya dikandung dalam nebula sferikal dari mana sistem matahari kita dibentuk.

"Sesungguhnya ia menerima suatu warisan yang luar-biasa besarnya dalam hal ini, sekalipun dalam bentuk daya tarikan umum dari semua bagiannya satu-sama-lain."

Hal ini tidak dapat disangkal. Tetapi adalah sama tidak-dapat-disangkal bahwa keseluruhan dari warisan gravitas atau gravitasi ini hadir tanpa berkurang di dalam sistem matahari sekarang, kecuali--barangkali-- kuantitas yang teramat kecil yang hilang bersama materi yang mungkin dilempar keluar secara tidak-terelakan ke ruang angkasa.

"Daya-daya kimiawi juga mesti sudah ada/hadir dan siap untuk beraksi/bertindak; tetapi, karena daya-daya ini hanya bisa menjadi efektif dalam kontak akrab berbagai jenis massa, maka kondensasi mesti terjadi sebelum mereka berperan." (hal. 120)

Apabila, seperti yang dilakukan Helmholtz di atas ini, kita memandang daya-daya kimiawi ini sebagai daya-daya afinitas, artinya sebagai tarikan, maka kembali kita mau-tak-mau mesti mengatakan bahwa jumlah-total daya-daya kimiawi dari tarikan ini masih ada tanpa berkurang di dalam sistem matahari.

Tetapi pada halaman yang sama, kepada kita Helmholtz memberikan sebagai hasil perhitungan-perhitungan,

"bahwa barangkali hanya 454-bagian dari daya mekanikal asli yang terdapat seperti itu"-- yaitu, dalam sistem matahari itu.

Bagaimana orang mesti mengartikan itu? Daya tarikan, baik yang umum maupun yang kimiawi, masih hadir tanpa gangguan apapun di dalam sistem matahari. Helmholtz tidak menyebutkan sumber tertentu lainnya dari daya itu. Bagaimanapun, menurut Helmholtz, daya-daya ini telah melakukan pekerjaan yang luar-biasa. Namun semuanya itu tidak berkurang ataupun bertambah karenanya. Seperti halnya dengan berat lonceng yang tersebut di atas, demikian pula dengan setiap molekul di dalam sistem matahari dan seluruh sistem matahari itu sendiri. "Beratnya tidak hilang ataupun berkurang." Yang terjadi dengan karbon dan oksigen sebagaimana yang disebutkan, berlaku pula bagi semua unsur kimiawi: jumlah kuantitas tertentu dari masing-masingnya tetap, dan "jumlah daya afinitas terus ada dengan sama kuatnya seperti pada waktu sebelumnya." Lalu, apakah yang telah hilang? Dan "daya" apakah yang telah melakukan kerja luar-biasa yang adalah 453 kali lebih besar daripada yang, menurut perhitungannya, masih mampu dilakukan oleh sistem matahari itu? Hingga di sini Helmholtz tidak memberikan jawaban. Namun lebih lanjut ia mengatakan:

"Apakah [dalam nebula sferikal asli] suatu _cadangan daya dalam bentuk panas _masih hadir, kita tidak tahu."

Tetapi, jika kita diperkenankan menyebutkannya, panas itu adalah suatu "daya" tolakan, karenanya ia bertindak berlawanan dengan tarikan gravitasi maupun kimiawi, yaitu berarti minus apabila ini ditempatkan sebagai plus. Maka apabila, menurut Helmholtz, cadangan daya asli itu terdiri atas tarikan umum dan kimiawi, suatu cadangan panas ekstra mestilah, tidak ditambahkan pada cadangan daya itu, melainkan ditarik/dikurangi darinya. Jika tidak demikian halnya maka panas matahari mestilah memperkuat daya tarikan bumi apanbila ia menyebabkan air meng-uap ke arah lawan tarisan ini, dan uap air itu naik; atau panas sebuah pipa (tube) besi pijar yang dilalui uap akan memperkuat tarikan kimiawi oksigen dan hidrogen, yang membuatnya tidak beraksi. Atau, untuk membuat jelas hal yang sama itu dalam suatu bentuk lain: mari kita menganggap bahwa nebul sferikal dengan radius r, dan karenanya dengan volume 4/3 o r³ mempunyai suatu suhu t. Selanjutnya mari kita anggap sebuah nebul sferikal kedua dari massa yang sama pada suhu lebih tinggi T mempunyai radius R yang lebih b esar dan volume 4/3 o r³. Kini menjadi jelas bahwa dalam nebula kedua, tarika n itu, baik yang mekanikal maupun yang fisikal dan kimiawi, dapat bertindak dengan daya yang sama seperti pada nebula pertama ketika ia mengkeret dari radius R menjadi radius r, yaitu, ketika ia telah memancarkan panas itu ke angkasa sesuai dengan perbedaan suhu T-t. Suatu nebula yang lebih panas oleh karenanya berkondensasi lebih lambat/belakangan daripada nebula yang lebih dingin; Dan sebagai konsekuensinya, panas itu, yang dari pendirian Helmholtz dipandang sebagai suatu rintangan bagi kondensasi, bukanlah suiatu plus melainkan suatu minus dari "cadangan daya." Helmholtz, dengan mengan daikan kemungkinan sejumlah gerak tolakan dalam bentuk panas menjadi ditambahkan pada bentuk-bentuk gerak tarikan, jelas-jelas melakukan suatu kesalahan perhitungan.

Sekarang, mari kita tempat keseluruhan dari "cadangan daya" ini, yang mungkin maupun yang dapat didemon strasikan, di bawah tanda matematikal yhang sama sehingga suatu tambahan menjadi mungkin. Karena sementara ini kita tidak dapat membalikkan panmas dan menggantikan tolakannya dengan t arikan setara, kita terpaksa melaksanakan pembalikan ini dengan kedua bentuk tarikan. Kemudian, gantinya daya tarikjan umum, gantinya afinitas kimiawi, dan gantinya panas, yang lagipula mungkin sudah ada sejak awal, kita cuma mesti menempatkan jumlah gerak tolakan atau yang disebut energi yang terdapat di dalam sfera serba-gas pada saat ia menjadi bebas. Dan dengan melakukan hal itu maka perhitungan Helmholtz juga menjadi sahih, dalam hal ia bermaksud memperhitungkan "pemanasan yang mesti lahir dari perkiraan kondensasi awal benda-benda langit dari sistem kita dari materi serba-nebula yang berserakan." Dengan mereduksikan seluruh "cadangan daya" pada panas, tolakan, ia juga membuatnya mungkin untuk menambah pada perkiraan cadangan daya panas itu. Perhitungan itu kemudian menyatakan bahwa 453/454 dari semuya energi, yaitu tolakan, yang aslinya terdapat di dalam sfera serba-gas telah diradiasikan/dipancarkan ke angkasa dalam bentuk panas, atau, agar lebih tepatnya, bahwa jumlah dari semua tarikan dalam sistem matahari sekarang dalam hubungannya dengan jumlah semua tolakan, masih terdapat di dalam yang sama, yaitu 454:1. Tetapi ia dengan demikian secara langsung mengingkari teks ceramah yang kepadanya hal itu ditambahkan sebagai bukti.

Maka, apabila pengertian daya, bahkan dalam kasus seorang ahli fisika seperti Helmholtz, menimbulkan kekacauan gagasan seperti itu, ini merupakan bukti paling kuat bahwa ia sama sekali tidak mempan bagi penggunaan ilmiah di semua cabang penelitian yang melampaui ilmu mekanika matematikal. Dalam ilmu mekanika sebab-sebab gerak dianggap tertentu dan asal-usulnya tidak dipandang, hanya efek-efeknya yang diperhitungkan. Maka, apabila suatu sebab dari gerak diistilahkan suatu daya, ini tidak mengganggu ilmu mekanika sendiri; tetapi telah menjadi kebiasaan untuk mengalihkan istilah ini juga pada ilmu fisika, kimia, dan biologi, dan kemudian kekacauan itu menjadi tidak terelakkan. Kita sudah melihat hal ini dan kelak akan acapkali menyaksikannya lagi.

Untuk konsep mengenai kerja, lihat bab berikutnya.

Catatan:

*) Pada bagian tepi manuskrip itu tertulis catatan berikut ini dengan pensil: "Kant (mengatakan), halaman 22, bahwa ketiga dimensi ruang itu bergantung pada kenyataan bahwa tarikan atau tolakan ini terjadi dalam proporsi terbalik dengan kwadrat (hasil perkalian) jarak itu."47)

**) Helmholtz, dalam Pop. Vortr., 50)_II, hal. 113, agaknya telah menjulukkan sebagian tertentu dari bukti ilmiah-alam dari azas Descartes mengenai kekekalan (immutability) gerak secara kuantitatif pada dirinya sendiri maupun pada Mayer dan Colding. "Aku sendiri, tanpa mengetahui sedikitpun akan Mayer dan Colding, dan hanya berkenalan dengan eksperimen-eksperimen Joule pada akhir karyaku, telah menempuh jalan yang sama; aku menyibukkan diriku terutama dengan menyelidiki semua hubungan antara berbagai proses alam yang dapat dideduksi dari gaya pertimbangan tertentu, dan aku mengumumkan penelitian-penelitianku pada tahun 1847 dalam sebuah karya kecil yang berjudul Über die Erhaltung der Kraft."--Tetapi, dalam karya itu tidak dijumpai yang baru bagi posisi itu pada tahun 1847 kecuali perkembangan tersebut di atas, yang secara matematikal sangat berharga, bahwa "konservasi daya" dan aksi sentral dari kekuatan-kekuatan yang aktif di antara berbagai benda sesuatu sistem hanyalah dua ungkapan yang berbeda dari hal yang sama, dan lebih jauh suatu perumusan yang lebih cermat mengenai hukum bahwa jumlah dari tenaga-tenaga yang hidup dan tensional dalam sesuatu sistem mekanikal tertentu adalah konstan. Dalam semua hal lainnya ia sudah didahului sejak makalah kedua Mayer di tahun 1845. Pada tahun 1842 Mayer sudah menyatakan mengenai "tidak-dapat-hancurnya kekuatan/daya," dan dari pendirian barunya pada tahun 1845 ia sudah berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih cemerlang mengenai "hubungan-hubungan antara berbagai proses alam" daripada yang diungkapkan Helmholtz pada tahun 1847.
»»  READMORE...